sang apprentice naik kelas
September 29th, 2007 by graceclarissa"Congratulations! Sifat sanguin kan tidak on time tetapi selalu in time," demikian bunyi SMS dari Mbak Ari beberapa waktu lalu ketika kuumumkan kabar gembira bahwa aku resmi diterima sebagai mahasiswi LSPR. Aku memang terlambat menghadiri ujian masuk, tetapi–puji Tuhan–dapat mengerjakannya dengan lancar dan menyelesaikannya tepat waktu. Yep, begitulah sanguin… metodenya tidak selalu "smooth & professional" tetapi bila sudah niat dan kenal medan selalu selamat.
Begitu pula halnya dengan posting hari ini yang seharusnya sudah publish dua-tiga minggu yang lalu. Atau lebih tepatnya lagi, mengapa di usia 22 aku masih berada di semester pertama perguruan tinggi–jauh di belakang goal-ku yang mula-mula untuk menjadi sarjana di usia 19. Hampir sebulan sudah aku kembali di bangku kuliah untuk kelima kalinya (tanpa sebersit pun rasa malu untuk mengakuinya). Banyak orang, terutama kawan-kawan dan saudara-saudara di luar kota, menanyakan kabarku (doing well, guys; thank you). Makanya, walaupun ini mungkin agak telat, kupublish juga karena pastinya masih dapat membawa banyak hikmah. Not exactly on time, but definitely in time…God’s timing! hehehe…
Tak terasa, hampir setahun (sejak Lebaran tahun lalu) telah lewat sejak aku tiba kembali di tanah air. Aku memuji Tuhan dan terheran-heran dengan karya-Nya dalam hidupku selama masa kepulanganku ini. I am very pleased with my new campus life. LSPR memang kampus yang tepat buatku. Aku terkagum dengan bagaimana Yang Mahakuasa memimpinku ke sana: mulai dari percakapan casual dengan Harun yang mengambil kursus singkat dalam rangka mempersiapkan karirnya sebagai calon pengacara kelas kakap (selamat ya bro, ik wens je veel success!)… ketemu IBSC di mana teman-teman sesama calon broadcaster penuh mendukungku untuk melanjutkan apa yang pernah kumulai… iseng main ke kampus LSPR yang baru pindah ke sebelah rumahku… ternyata kepincut dengan program S1 dan student life-nya… hingga aku serius mendaftarkan diri, maju untuk ujian masuk, dan resmi diterima sebagai mahasiswi. Aku sangat bersyukur dapat kampus yang tidak saja kompeten secara akademik tetapi juga membuka wawasan, memberi banyak inspirasi, in touch dengan pop culture kontemporer, mempunyai fasilitas lengkap, dan memberiku penyaluran untuk mengembangkan bakat-minatku.
Beberapa teman protes aku memilih LSPR. Menurut mereka aku seharusnya masuk universitas negeri yang "berbobot", "intelektual", dan kualitasnya "terjamin" prima. "Di LSPR pressure-nya tinggi untuk bersaing menjadi orang paling ‘modis’ dan ‘gaul’… kebanyakan artist wannabe’s," mereka beralasan. "Orang kayak kamu, mah, kuliah begituan juga gak usah pake belajar!" Namun entah mengapa aku tidak juga tergerak untuk mensurvei UI dan mengambil SPMB. Aku tidak meragukan kemampuanku untuk dapat lulus; hanya tidak kepingin saja.
Untunglah, ternyata kawan-kawanku itu salah. Kuliah empat hari seminggu, tiga jam sehari ternyata cukup demanding. (Aku sangat beruntung tidak perlu menghabiskan banyak waktu di jalan seperti teman-temanku yang tinggal jauh-jauh… kampus persis di sebelah rumah, tinggal jalan kaki lima menit.) Walaupun banyak teori sudah familier bagiku, ternyata hanya dalam beberapa tahun ini ilmunya sudah banyak di-update sehingga kembali mengambil kelas-kelas tersebut dari nol ternyata banyak bermanfaat bagiku. Jika aku memang dianugerahi penguasaan yang sedikit "ekstra" atas materinya, aku memandangnya sebagai kesempatan untuk memberkati kawan-kawan sekelasku dan maju bersama. STIKOM ini memang patut disebut London School–bukan saja karena akreditasi Cambridge dan City & Guilds-nya yang bergengsi itu–standar LSPR tidak kalah dibandingkan dengan hogeschool-ku di Eropa dulu. Malah dalam banyak aspek, terutama yang nonakademik, justru lebih maju.
Tentang reputasi sebagai "sekolah artis" dan "wajib gaul"; yang jelas itu bukan alasan mengapa aku memilih LSPR. Namun hal ini tetap merupakan plus point di mataku. Bagaimanapun juga, banyak orang sukses merupakan jebolan STIKOM ini (termasuk Nadine Chandrawinata yang banyak dicerca–I’m not a fan of hers at all; but, hey, she is successful and nobody’s perfect, right??), dan di lingkungan orang sukses-lah aku dapat banyak inspirasi yang memperjelas visi hidupku serta membuka jalan agar aku dapat menjalankan misiku di dunia ini. I like the idea of "kampus gaul" as well. Selama bertahun-tahun aku dituntut untuk tampil dan berfungsi lebih dewasa daripada usiaku yang sesungguhnya–bahkan aku pernah mengalami fase di mana aku harus berbohong tentang usiaku oleh rasa tidak aman. Puji Tuhan, fase itu sudah jauh di belakangku dan aku sudah berdamai dengannya. Namun latar belakangku itu menyebabkan pembawaanku cenderung kaku dan konservatif. Saat ini pun aku cenderung berkawan dengan orang-orang yang lebih tua dariku (and I’m thankful for each one of them). Tetapi kini aku "dicemplungkan" ke tengah kawan-kawan yang lebih muda dari adikku, yang menikmati hidup dan the "gaul" lifestyle. Aku mungkin tidak akan pernah menjadi "anak gaul" yang populer, tetapi dengan berada di tengah-tengah mereka aku belajar untuk berpikir lebih simpel, lebih relateable, dan lebih enjoy segala sesuatu ketimbang terobsesi untuk menganalisanya. Aku bisa menggunakan seluruh hidupku berusaha mempersiapkan masa depan dan bertumbuh menjadi lebih dewasa, tetapi masa muda merupakan sesuatu yang tak akan kembali. Kawan-kawanku ini mengingatkanku bahwa I am still young after all, and I have the right to make the most of my youth.
Kembali ke kampus setelah cuti dua tahun menuntut banyak penyesuaian diri. Rasanya cukup berbeda: aku biasa studi di negeri bule sebagai perantau muda yang tak punya siapa-siapa, tak punya apa-apa; tetapi kini aku berada di ibukota negaraku sendiri, di bawah satu atap dengan orangtuaku, dan serba berkelimpahan. Paling tidak pengalamanku bersusah-susah di luar sana membuat aku dapat menghargai dan mencintai apa yang kumiliki sekarang. Juga, selama tiga tahun terakhir ini aku tak pernah punya kehidupan rutin; kini aku harus keras mendisiplin diri untuk hidup teratur dan mempersiapkan segala sesuatu semalam sebelumnya. Aku tak tahu kawan-kawan sekelasku terkesan bagaimana ketika memilihku jadi ketua kelas; dipikirnya aku mampu lebih bertanggung jawab dari mereka dan tahu segala sesuatu. Sama sekali tidak; I’m juggling–rather overwhelmed and a bit scared, actually–dan aku hanya salah seorang apprentice yang sama-sama numpang menimba ilmu di ruang kelas itu.
Sebelum kembali kuliah aku banyak mengeluh, rasanya sulit sekali mencari peluang untuk maju. Penantian yang sangat lama dan miskin prestasi ini kerap membuatku frustrasi dan harga diriku tersiksa. Namun kini, tiba-tiba saja begitu banyak peluang menggiurkan disuguhkan tepat di depan mataku–klub ini, klub itu, arisan kelas, lowongan pekerjaan, tawaran pelayanan, dan sebagainya. Sekarang tantangannya adalah bagaimana memilah-milah "the best" opportunities from "the good". Senantiasa aktif berkarya adalah sesuatu yang baik–jika itu semua dikerjakan dengan kekuatan dan perkenanan Tuhan. Aku tidak boleh lupa bahwa kali ini aku bukan berkuliah untuk memuaskan harga diri Grace Susetyo serta hasratnya akan prestasi; kini aku berkuliah dalam rangka joining God’s agenda for my life as well as the life of others. Di N21 aku selalu diajari: God first, family second, career/calling/study third, kemudian baru bisnis. Konsep yang sederhana, namun butuh bertahun-tahun bagiku untuk mengerti apa artinya itu sesungguhnya dan bagaimana mengamalkannya. Dalam hal ini spesifiknya, itu berarti bahwa aku harus memerangi kecenderunganku untuk mau menggarap segala sesuatu yang bisa digarap, agar aku punya cukup waktu dan tenaga untuk mempersiapkan diri di tempat tersembunyi. Semua karya agung di depan layar terwujud oleh karena persiapan yang sungguh-sungguh dan memakan banyak waktu di belakang layar. Bagiku persiapan tersebut, selain banyak belajar, adalah berdoa mencari wajah Tuhan–bukan hanya doa yang mengutarakan perasaan dan permintaanku kepada-Nya tetapi menikmati hadirat-Nya dan berusaha mendengar suara hati-Nya. Tentunya aku tidak boleh terlalu lelah atau padat dengan kegiatan jika aku mau memraktekkan "listening prayer" secara efektif–apalagi jika itu benar prioritas utamaku. Aku percaya bahwa apprenticeship-ku ini merupakan masa di mana Roh Kudus akan memperlengkapi aku dengan pengembangan banyak talenta dan karunia; baik yang "rohani" maupun yang "umum". Masa produktifku kelihatannya baru akan mulai bila aku sudah dapat dengan lancar melaksanakan prioritas-prioritasku dengan benar dan seimbang; dan aku tahu akan butuh beberapa tahun untuk belajar hal itu. Aku akan berlari suatu hari nanti. Namun hari ini biarlah aku dengan sabar dan rendah hati belajar untuk merangkak, berdiri, dan berjalan. Bila letih lesu dan berbeban berat, aku dapat datang kepada-Nya kapan saja; maka Ia akan memberiku kelegaan serta kekuatan untuk bergerak mengikuti irama-Nya.
Aku masih ingat beberapa bulan silam ketika aku curhat kepada mentorku Bu Devi tentang perasaanku kembali ke sarang setelah bertahun-tahun merantau, tanpa ada hasil yang bisa dibanggakan. Meminjam kata-kata Naomi, "Yang Mahakuasa telah melakukan banyak yang pahit kepadaku. Dengan tangan penuh aku pergi, tetapi dengan tangan kosong TUHAN memulangkan aku." Bu Devi menjawab, "Ya, tetapi Naomi pada akhirnya menjadi seseorang yang berkemenangan karena dia melihat peluang untuk maju, mengejar peluang itu (walaupun dengan bantuan Ruth), dan tetap mempercayakan masa depannya kepada Tuhan." Ia menambahkan bahwa segala sesuatu yang Tuhan izinkan terjadi dalam hidupku terjadi untuk suatu maksud mulia. Ia menciptakanku untuk jadi pemenang; hanya aku yang harus rela berjuang untuk bertumbuh menjadi pemenang yang Ia rancangkan itu. Aku cukup kaget ketika Bu Devi mengatakan bahwa prioritas utamaku untuk saat ini seharusnya bukanlah berhasil dalam proyek usaha kami itu, melainkan menjadi bagian dari sesuatu yang dapat kubanggakan; suatu wadah di mana aku dapat berkarya, mengeksplor jati diriku, dan become somebody. Namun di sisi lain aku merasa sebagian dari bebanku terangkat dan mendapat penguatan baru yang tidak pernah kukenal sebelumnya. Dalam industri ini Bu Devi dan suaminya adalah leaders kelas kakap yang membimbing banyak pemilik bisnis besar, sementara aku hanyalah satu titik kecil dalam organisasi raksasa mereka; bahwa seseorang selevel rela meluangkan waktunya untuk memberiku nasihat demikian sangatlah berharga bagiku.
Bu Devi sering berkata agar aku jangan terlalu pusing dengan masa lalu tetapi senantiasa mengclaim janji Tuhan akan masa depan yang penuh harapan. Dulu aku sulit menghayati hal ini, karena pada saat itu hanya sebuah masa lalu yang kacau yang dapat kulihat dan kumengerti. Namun aku berani berkata, seandainya obrolan malam itu dengan Bu Devi tidak terjadi, mungkin aku tidak pernah menjadi apprentice IBSC–apalagi LSPR–dan mungkin persahabatan-persahabatan serta berkat-berkat lain dalam hidupku tidak menjadi begitu berarti. Kini–hanya beberapa bulan sejak percakapan kami itu–aku telah melihat dan merasakan betapa Tuhan baik bagiku, betapa Ia melimpahi aku dengan rahmat dan kasih karunia, serta bagaimana Ia akan membanjiri aku dengan porsi yang lebih besar lagi di masa depan. Sang apprentice baru naik kelas. Sang amatir baru belajar mengikuti tarian karya agung Grand Master. Namun inilah yang boleh kupercaya: kasih karunia-Nya cukup bagiku dalam musim dan pergumulan yang harus kuhadapi. Aku percaya bahwa musim baru di LSPR ini akan dipakai sang Grand Master untuk memperlengkapi apprentice-Nya bagi panggilan pekerjaan mulia dalam kehendaknya yang baik, berkenan, dan sempurna.