sang apprentice naik kelas

September 29th, 2007 by graceclarissa

"Congratulations! Sifat sanguin kan tidak on time tetapi selalu in time," demikian bunyi SMS dari Mbak Ari beberapa waktu lalu ketika kuumumkan kabar gembira bahwa aku resmi diterima sebagai mahasiswi LSPR. Aku memang terlambat menghadiri ujian masuk, tetapi–puji Tuhan–dapat mengerjakannya dengan lancar dan menyelesaikannya tepat waktu. Yep, begitulah sanguin… metodenya tidak selalu "smooth & professional" tetapi bila sudah niat dan kenal medan selalu selamat.

Begitu pula halnya dengan posting hari ini yang seharusnya sudah publish dua-tiga minggu yang lalu. Atau lebih tepatnya lagi, mengapa di usia 22 aku masih berada di semester pertama perguruan tinggi–jauh di belakang goal-ku yang mula-mula untuk menjadi sarjana di usia 19. Hampir sebulan sudah aku kembali di bangku kuliah untuk kelima kalinya (tanpa sebersit pun rasa malu untuk mengakuinya). Banyak orang, terutama kawan-kawan dan saudara-saudara di luar kota, menanyakan kabarku (doing well, guys; thank you). Makanya, walaupun ini mungkin agak telat, kupublish juga karena pastinya masih dapat membawa banyak hikmah. Not exactly on time, but definitely in time…God’s timing! hehehe…

Tak terasa, hampir setahun (sejak Lebaran tahun lalu) telah lewat sejak aku tiba kembali di tanah air. Aku memuji Tuhan dan terheran-heran dengan karya-Nya dalam hidupku selama masa kepulanganku ini. I am very pleased with my new campus life. LSPR memang kampus yang tepat buatku. Aku terkagum dengan bagaimana Yang Mahakuasa memimpinku ke sana: mulai dari percakapan casual dengan Harun yang mengambil kursus singkat dalam rangka mempersiapkan karirnya sebagai calon pengacara kelas kakap (selamat ya bro, ik wens je veel success!)… ketemu IBSC di mana teman-teman sesama calon broadcaster penuh mendukungku untuk melanjutkan apa yang pernah kumulai… iseng main ke kampus LSPR yang baru pindah ke sebelah rumahku… ternyata kepincut dengan program S1 dan student life-nya… hingga aku serius mendaftarkan diri, maju untuk ujian masuk, dan resmi diterima sebagai mahasiswi. Aku sangat bersyukur dapat kampus yang tidak saja kompeten secara akademik tetapi juga membuka wawasan, memberi banyak inspirasi, in touch dengan pop culture kontemporer, mempunyai fasilitas lengkap, dan memberiku penyaluran untuk mengembangkan bakat-minatku.

Beberapa teman protes aku memilih LSPR. Menurut mereka aku seharusnya masuk universitas negeri yang "berbobot", "intelektual", dan kualitasnya "terjamin" prima. "Di LSPR pressure-nya tinggi untuk bersaing menjadi orang paling ‘modis’ dan ‘gaul’… kebanyakan artist wannabe’s," mereka beralasan. "Orang kayak kamu, mah, kuliah begituan juga gak usah pake belajar!" Namun entah mengapa aku tidak juga tergerak untuk mensurvei UI dan mengambil SPMB. Aku tidak meragukan kemampuanku untuk dapat lulus; hanya tidak kepingin saja.

Untunglah, ternyata kawan-kawanku itu salah. Kuliah empat hari seminggu, tiga jam sehari ternyata cukup demanding. (Aku sangat beruntung tidak perlu menghabiskan banyak waktu di jalan seperti teman-temanku yang tinggal jauh-jauh… kampus persis di sebelah rumah, tinggal jalan kaki lima menit.) Walaupun banyak teori sudah familier bagiku, ternyata hanya dalam beberapa tahun ini ilmunya sudah banyak di-update sehingga kembali mengambil kelas-kelas tersebut dari nol ternyata banyak bermanfaat bagiku. Jika aku memang dianugerahi penguasaan yang sedikit "ekstra" atas materinya, aku memandangnya sebagai kesempatan untuk memberkati kawan-kawan sekelasku dan maju bersama. STIKOM ini memang patut disebut London School–bukan saja karena akreditasi Cambridge dan City & Guilds-nya yang bergengsi itu–standar LSPR tidak kalah dibandingkan dengan hogeschool-ku di Eropa dulu. Malah dalam banyak aspek, terutama yang nonakademik, justru lebih maju.

Tentang reputasi sebagai "sekolah artis" dan "wajib gaul"; yang jelas itu bukan alasan mengapa aku memilih LSPR. Namun hal ini tetap merupakan plus point di mataku. Bagaimanapun juga, banyak orang sukses merupakan jebolan STIKOM ini (termasuk Nadine Chandrawinata yang banyak dicerca–I’m not a fan of hers at all; but, hey, she is successful and nobody’s perfect, right??), dan di lingkungan orang sukses-lah aku dapat banyak inspirasi yang memperjelas visi hidupku serta membuka jalan agar aku dapat menjalankan misiku di dunia ini. I like the idea of "kampus gaul" as well. Selama bertahun-tahun aku dituntut untuk tampil dan berfungsi lebih dewasa daripada usiaku yang sesungguhnya–bahkan aku pernah mengalami fase di mana aku harus berbohong tentang usiaku oleh rasa tidak aman. Puji Tuhan, fase itu sudah jauh di belakangku dan aku sudah berdamai dengannya. Namun latar belakangku itu menyebabkan pembawaanku cenderung kaku dan konservatif. Saat ini pun aku cenderung berkawan dengan orang-orang yang lebih tua dariku (and I’m thankful for each one of them). Tetapi kini aku "dicemplungkan" ke tengah kawan-kawan yang lebih muda dari adikku, yang menikmati hidup dan the "gaul" lifestyle. Aku mungkin tidak akan pernah menjadi "anak gaul" yang populer, tetapi dengan berada di tengah-tengah mereka aku belajar untuk berpikir lebih simpel, lebih relateable, dan lebih enjoy segala sesuatu ketimbang terobsesi untuk menganalisanya. Aku bisa menggunakan seluruh hidupku berusaha mempersiapkan masa depan dan bertumbuh menjadi lebih dewasa, tetapi masa muda merupakan sesuatu yang tak akan kembali. Kawan-kawanku ini mengingatkanku bahwa I am still young after all, and I have the right to make the most of my youth.

Kembali ke kampus setelah cuti dua tahun menuntut banyak penyesuaian diri. Rasanya cukup berbeda: aku biasa studi di negeri bule sebagai perantau muda yang tak punya siapa-siapa, tak punya apa-apa; tetapi kini aku berada di ibukota negaraku sendiri, di bawah satu atap dengan orangtuaku, dan serba berkelimpahan. Paling tidak pengalamanku bersusah-susah di luar sana membuat aku dapat menghargai dan mencintai apa yang kumiliki sekarang. Juga, selama tiga tahun terakhir ini aku tak pernah punya kehidupan rutin; kini aku harus keras mendisiplin diri untuk hidup teratur dan mempersiapkan segala sesuatu semalam sebelumnya. Aku tak tahu kawan-kawan sekelasku terkesan bagaimana ketika memilihku jadi ketua kelas; dipikirnya aku mampu lebih bertanggung jawab dari mereka dan tahu segala sesuatu. Sama sekali tidak; I’m juggling–rather overwhelmed and a bit scared, actually–dan aku hanya salah seorang apprentice yang sama-sama numpang menimba ilmu di ruang kelas itu.

Sebelum kembali kuliah aku banyak mengeluh, rasanya sulit sekali mencari peluang untuk maju. Penantian yang sangat lama dan miskin prestasi ini kerap membuatku frustrasi dan harga diriku tersiksa. Namun kini, tiba-tiba saja begitu banyak peluang menggiurkan disuguhkan tepat di depan mataku–klub ini, klub itu, arisan kelas, lowongan pekerjaan, tawaran pelayanan, dan sebagainya. Sekarang tantangannya adalah bagaimana memilah-milah "the best" opportunities from "the good". Senantiasa aktif berkarya adalah sesuatu yang baik–jika itu semua dikerjakan dengan kekuatan dan perkenanan Tuhan. Aku tidak boleh lupa bahwa kali ini aku bukan berkuliah untuk memuaskan harga diri Grace Susetyo serta hasratnya akan prestasi; kini aku berkuliah dalam rangka joining God’s agenda for my life as well as the life of others. Di N21 aku selalu diajari: God first, family second, career/calling/study third, kemudian baru bisnis. Konsep yang sederhana, namun butuh bertahun-tahun bagiku untuk mengerti apa artinya itu sesungguhnya dan bagaimana mengamalkannya. Dalam hal ini spesifiknya, itu berarti bahwa aku harus memerangi kecenderunganku untuk mau menggarap segala sesuatu yang bisa digarap, agar aku punya cukup waktu dan tenaga untuk mempersiapkan diri di tempat tersembunyi. Semua karya agung di depan layar terwujud oleh karena persiapan yang sungguh-sungguh dan memakan banyak waktu di belakang layar. Bagiku persiapan tersebut, selain banyak belajar, adalah berdoa mencari wajah Tuhan–bukan hanya doa yang mengutarakan perasaan dan permintaanku kepada-Nya tetapi menikmati hadirat-Nya dan berusaha mendengar suara hati-Nya. Tentunya aku tidak boleh terlalu lelah atau padat dengan kegiatan jika aku mau memraktekkan "listening prayer" secara efektif–apalagi jika itu benar prioritas utamaku. Aku percaya bahwa apprenticeship-ku ini merupakan masa di mana Roh Kudus akan memperlengkapi aku dengan pengembangan banyak talenta dan karunia; baik yang "rohani" maupun yang "umum". Masa produktifku kelihatannya baru akan mulai bila aku sudah dapat dengan lancar melaksanakan prioritas-prioritasku dengan benar dan seimbang; dan aku tahu akan butuh beberapa tahun untuk belajar hal itu. Aku akan berlari suatu hari nanti. Namun hari ini biarlah aku dengan sabar dan rendah hati belajar untuk merangkak, berdiri, dan berjalan. Bila letih lesu dan berbeban berat, aku dapat datang kepada-Nya kapan saja; maka Ia akan memberiku kelegaan serta kekuatan untuk bergerak mengikuti irama-Nya.

Aku masih ingat beberapa bulan silam ketika aku curhat kepada mentorku Bu Devi tentang perasaanku kembali ke sarang setelah bertahun-tahun merantau, tanpa ada hasil yang bisa dibanggakan. Meminjam kata-kata Naomi, "Yang Mahakuasa telah melakukan banyak yang pahit kepadaku. Dengan tangan penuh aku pergi, tetapi dengan tangan kosong TUHAN memulangkan aku." Bu Devi menjawab, "Ya, tetapi Naomi pada akhirnya menjadi seseorang yang berkemenangan karena dia melihat peluang untuk maju, mengejar peluang itu (walaupun dengan bantuan Ruth), dan tetap mempercayakan masa depannya kepada Tuhan." Ia menambahkan bahwa segala sesuatu yang Tuhan izinkan terjadi dalam hidupku terjadi untuk suatu maksud mulia. Ia menciptakanku untuk jadi pemenang; hanya aku yang harus rela berjuang untuk bertumbuh menjadi pemenang yang Ia rancangkan itu. Aku cukup kaget ketika Bu Devi mengatakan bahwa prioritas utamaku untuk saat ini seharusnya bukanlah berhasil dalam proyek usaha kami itu, melainkan menjadi bagian dari sesuatu yang dapat kubanggakan; suatu wadah di mana aku dapat berkarya, mengeksplor jati diriku, dan become somebody. Namun di sisi lain aku merasa sebagian dari bebanku terangkat dan mendapat penguatan baru yang tidak pernah kukenal sebelumnya. Dalam industri ini Bu Devi dan suaminya adalah leaders kelas kakap yang membimbing banyak pemilik bisnis besar, sementara aku hanyalah satu titik kecil dalam organisasi raksasa mereka; bahwa seseorang selevel rela meluangkan waktunya untuk memberiku nasihat demikian sangatlah berharga bagiku.

Bu Devi sering berkata agar aku jangan terlalu pusing dengan masa lalu tetapi senantiasa mengclaim janji Tuhan akan masa depan yang penuh harapan. Dulu aku sulit menghayati hal ini, karena pada saat itu hanya sebuah masa lalu yang kacau yang dapat kulihat dan kumengerti. Namun aku berani berkata, seandainya obrolan malam itu dengan Bu Devi tidak terjadi, mungkin aku tidak pernah menjadi apprentice IBSC–apalagi LSPR–dan mungkin persahabatan-persahabatan serta berkat-berkat lain dalam hidupku tidak menjadi begitu berarti. Kini–hanya beberapa bulan sejak percakapan kami itu–aku telah melihat dan merasakan betapa Tuhan baik bagiku, betapa Ia melimpahi aku dengan rahmat dan kasih karunia, serta bagaimana Ia akan membanjiri aku dengan porsi yang lebih besar lagi di masa depan. Sang apprentice baru naik kelas. Sang amatir baru belajar mengikuti tarian karya agung Grand Master. Namun inilah yang boleh kupercaya: kasih karunia-Nya cukup bagiku dalam musim dan pergumulan yang harus kuhadapi. Aku percaya bahwa musim baru di LSPR ini akan dipakai sang Grand Master untuk memperlengkapi apprentice-Nya bagi panggilan pekerjaan mulia dalam kehendaknya yang baik, berkenan, dan sempurna.

The Solution

September 18th, 2007 by graceclarissa

(Disclaimer: Artikel ini mengulas tentang puasa dan pengudusan dari sudut pandang pengikut Kristus, yang mana dapat berbeda dengan pandangan menurut pemeluk agama atau kepercayaan lain.)

Bukan hanya umat Muslim yang berpuasa; aku juga. Kami memang tidak mempunyai semacam ekivalen bulan Ramadhan, tetapi di gereja kami setiap Rabu pagi sepanjang tahun disepakati sebagai hari puasa bersama (meskipun setengah hari saja). Selain itu aku juga melakukan puasa pribadi bila sedang menantikan suatu jawaban khusus dari Yang Mahakuasa. Walaupun, harus kuakui aku belum rutin memraktekkan puasa pribadi. Padahal di dalam Injil–lebih jelasnya dalam bahasa Inggris–tertulis "when you fast…" When. Bukan "if". Puasa bagi pengikut Kristus adalah sebuah perintah sebagai wujud ibadah orang beriman, bukan sebuah anjuran yang boleh dikerjakan jika enak dikerjakan dan boleh diabaikan jika terlalu merepotkan. Kalau "kiat-kiat puasa" jarang disinggung di dalam kitab suci, itu bukan karena puasa itu tidak penting. Justru karena di dalam jemaat mula-mula puasa merupakan praktek yang sangat common sehingga tidak ada orang yang perlu diajari berpuasa. Sayang sekali banyak orang percaya zaman sekarang tidak lagi memperhatikan perintah ini. Sehingga orang yang tidak dibesarkan di lingkungan yang berpuasa tetapi kemudian berniat menjalankan perintah ini sering harus meraba-raba. Aku sendiri belum sempurna menaati perintah ini–it’s a new dance I’m trying to learn–but I’m starting.

Di hari Selasa ini aku berpuasa dari siang sampai malam dengan maksud mempersiapkan diri menerima pewahyuan pribadi. Kurasa bukan sesuatu yang aneh, karena ketika leluhur kita dahulu menantikan lawatan Tuhan secara manifest itulah yang mereka lakukan: menguduskan diri melalui doa puasa. Jika kita tidak kudus saat lawatan Tuhan turun, kita bisa mati dari menjamah hadirat Tuhan yang kudus "bagai api yang menghanguskan". Hanya karena kita merupakan umat pilihan Allah bukan berarti kita boleh berasumsi bahwa hidup kita pasti akan senantiasa "lulus ujian" berkenan kepada-Nya. Jangan lupa bahwa kita semua adalah orang berdosa yang telah kehilangan kemuliaan Allah dan dibenarkan hanya oleh kasih karunia melalui penebusan Kristus. Kasih karunia-Nya memang cuma-cuma dan tidak dapat dibeli oleh amal bakti insani, tetapi selama kita hidup di dunia kekudusan pribadi harus dipelihara, dipertahankan, dan diperjuangkan dengan menyalibkan daging kita tiap-tiap hari. Sebab jika tidak rela berkorban bagi Dia yang telah mati menebus kita, kita tidaklah layak untuk kerajaan Allah.

Tetapi baru juga aku memulai kegiatan pagi ini godaan sudah banyak. Berhenti makannya memang dari siang tetapi seharusnya menguduskan dirinya sudah mulai dari bangun pagi. Hari ini kelas komputer pukul setengah sepuluh di Wisma Dharmala–untuk kelas-kelas lain di Sudirman Park ke kampus tinggal ngesot, tetapi khusus yang satu ini aku harus naik angkot barang lima menit. Sama sekali tidak jauh dibandingkan teman-temanku yang butuh waktu jalan dua jam dari rumahnya yang jauh-jauh, tetapi yang ngeri itu bagaimana aku pasti diturunkan di putaran Letter-U di bawah jembatan di persimpangan KH Mas Mansyur-Sudirman. Trotoarnya putus, jadi sulit memastikan apakah jalan benar-benar aman untuk aku turun atau ada kendaraan kencang melintas. Praktis insting defensifku langsung on. Begitu ada trotoar, itu pun sempit dan dijejali pedagang asongan.

Anda pria, saya wanita, jika Anda tahu sopan hendaklah memberi saya jalan, batinku tanpa menyadari bahwa aku mulai kesal. Bukannya diberi jalan aku malah digoda. Aku tak mengerti kenapa seorang perempuan keturunan Tionghoa agaknya sedikit lebih sulit beroleh ketenangan berjalan seorang diri di tengah kota. Aku kan orang Indonesia juga, tinggal di daerah situ pula, mengapa rasa amanku harus diusik-usik? I just want to make it to my class, pronto, for goodness’ sakes, stop making life so difficult for me. Panas hatiku kian naik ketika sebuah mobil tidak berhenti untukku di zebra cross and a motorbike nearly rammed up my ass at the security post. Kuayunkan kalung ID Card-ku yang digantungi kunci hampir mengenai orang tersebut, kemudian sekejap menatapnya kesal sebelum berjalan meninggalkannya. Aku sudah jalan di tempat yang betul, matamu ke mana?

Computer workshop pun tidak kalah membuat frustrasi. Sudah datang terlambat, tugasnya sukar pula. Walaupun sudah mengikuti instruksi yang tertera, rasanya ada saja yang salah. Jujur saja, cukup sulit menyembunyikan kekesalanku ketika sebuah benda mati yang seharusnya berada di bawah kendaliku seakan menolak untuk mengerjakan apa yang kuperintahkan. Come on, aku memang tidak akan pernah menjadi desainer grafis, tapi paling tidak kan aku mau dapat nilai bagus untuk mata kuliah ini… nurut aja kenapa, sih?

Dibutuhkan hampir seluruh jam pelajaran itu untuk memadamkan panas hatiku. I’m not proud of it. Untungnya dalam keyakinan kami tidak ada istilah "batal puasa"… sebab puasa atau tidak puasa, kalau kita mau jujur, siapa, sih, yang sanggup memenuhi standar kekudusan absolut Yang Mahakuasa selama satu jam saja? Bisa seratus persen suci selama lima menit saja sudah sangat sukar–mungkin bahkan mustahil–apalagi sepanjang hari penuh. Sembari membuat tulisan ini pun aku harus bergumul untuk tidak berdosa kepada Tuhan dengan mencari applaus manusia atau sok lebih benar dari orang lain dan seribu satu pemikiran lain yang berkecamuk di alam bawah sadarku. Bukan berarti sikap hatiku tadi pagi itu acceptable; aku hanya mengatakan bahwa yang terjadi adalah manusiawi atau kedagingan. Kedagingan inilah yang seharusnya disalibkan di dalam doa puasa… tetapi apa yang harus kita lakukan bila serangan datang begitu cepat, naluri bawah sadar kita terlanjur berreaksi secara daging, sehingga terlambat sudah untuk mencegah begitu kita menyadari bahwa kita terlanjur berdosa dengan hati kita?

Pencipta kita bukannya tidak tahu sifat kita ini. Ia pernah turun ke dunia ciptaan-Nya dan menjadi seorang manusia, jadi Ia tahu betul apa yang kita rasakan. Tetapi di saat yang bersamaan Ia juga membuktikan bahwa hidup kudus sebagai seorang manusia bertubuh fana adalah sesuatu yang mungkin bila Roh-Nya dengan sempurna diam di dalam kita. Karena selama hidup di dunia ini pengenalan dan persekutuan kita dengan Roh Kudus tidak akan pernah dapat sesempurna Anak Allah sendiri, Allah memberikan jalan keluar bagi kita orang berdosa.

Upah dosa adalah maut. Dosa tidak dapat diampuni tanpa pertumpahan darah karena itu akan menyalahi dan mencemari kekudusan Allah. Namun kasih Allah bagi kita begitu besar sehingga Ia lebih memilih untuk mati daripada untuk hidup tanpa kita. Itulah sebabnya mengapa Ia memberikan Yesus, Anak Tunggal-Nya, menjadi tebusan bagi dosa-dosa kita. Ia menjalani kematian kita dan menukarkannya dengan kehidupan kekal milik-Nya. Ia terputus dari Bapa-Nya supaya kita dapat didamaikan dan kembali bersekutu dengan-Nya. Ia menanggung semua dosa, kutukan, dan penyakit kita supaya kekudusan-Nya, berkat-berkat-Nya, dan pemulihan-Nya boleh menjadi milik kita. Ia turun ke dalam neraka untuk kita supaya suatu hari kelak kita boleh melihat sorga. Dalam tiga hari selama Anak Domba Allah berada di alam maut ia mengalahkan kuasa dosa dan maut selamanya. Jika ada satu orang saja di dunia ini yang tidak ter-cover oleh penebusan Kristus, itu sudah cukup untuk menahan-Nya di dunia orang mati sehingga Ia tidak bangkit dan naik ke surga. Tetapi kenyataannya tidaklah demikian. My Redeemer lives. My Redeemer reigns. My Redeemer is with me even here and now. And the good news is, Yesus mati bukan hanya untuk "orang Kristen". Yesus mati untuk semua orang yang pernah, sedang, dan akan hidup di dunia ini.

Pertanyaannya hanyalah, apakah kita mau menerima anugerah yang ditawarkan-Nya untuk cuma-cuma kepada kita? Harganya memang mahal. Tetapi toh kita tak sanggup membayarnya. Dia sudah melunasinya dengan tunai dan menawarkannya kepada siapa saja yang mau menerimanya. Kedengarannya bodoh? Memang. Tetapi Firman Allah mengatakan bahwa Allah akan memuliakan mereka yang memilih untuk mempercayai kebodohan pemberitaan Injil. Dan jika Allah di pihak kita, siapakah lawan kita?

Seandainya kita mampu menebus dosa-dosa kita dan membeli perkenanan Tuhan melalui amal kebaikan dan ibadah agamawi kita, tidak ada gunanya Yesus datang. Kalau kita mempersembahkan hidup kita mengabdi kepada Allah dan kerajaan-Nya, itu bukan untuk menarik perhatian Allah agar memberi kita kasih sayang-Nya melainkan karena rasa terima kasih kita untuk anugerah dan pengorbanan yang begitu besar tidak mengizinkan kita untuk tidak mengembalikan kepada-Nya apa yang sudah Ia bayar lunas.

Hidup di dalam penebusan Kristus diibaratkan dengan tampil di hadapan Allah Bapa berjubahkan kekudusan Kristus–kita datang sebagai orang berdosa tetapi karena kita datang di dalam nama Yesus, di saat Allah memandang kita Ia tidak lagi melihat kejijikan dosa kita; ia melihat anak-anak-Nya yang kudus, mulia, dan menyenangkan hati-Nya. Akan tetapi, selama kita masih mendiami tubuh fana ini di dunia, kita akan terus bergumul melawan sifat dosa dan kedagingan kita. Butuh kedisiplinan dan ketaatan untuk senantiasa mempersembahkan tubuh kita sebagai korban yang hidup di mezbah Tuhan, mematikan daging kita, membiarkannya dihanguskan api Tuhan dan menjadi persembahan yang kudus dan berkenan bagi-Nya. Sayangnya, karena korbannya hidup, kita cenderung mau merangkak turun dari mezbah ketika kayunya mulai panas. Ya, itulah yang terjadi ketika aku membiarkan hatiku terpancing amarah tadi pagi.

Jadi apa yang kulakukan? Dalam Firman-Nya, Allah berjanji untuk mendekat saat kita mendekat. Oleh karena itu aku datang saja kepada Tuhan dengan curahan hatiku yang paling jujur. Aku kenal Tuhanku dan aku kenal kasih-Nya yang sanggup menahan kejujuran keluh kesahku. Di tempat-tempat terkelam dari lembah kekelamanku Ia tidak pernah membiarkan ataupun melupakanku; aku tahu Ia tak mungkin meninggalkanku hari ini, walaupun ulahku tadi pasti menyusahkan hati-Nya. Yah, bagaimanapun juga itu sudah terlanjur terjadi; aku hanya ingin berdamai dengan-Nya dan memanfaatkan jalan keluar yang telah Ia sediakan bagiku untuk saat-saat seperti ini. Maka aku pun berdoa, "Tuhan, aku marah. Aku tidak seharusnya marah, kejadian tadi sebenarnya sepele. Walaupun begitu aku benar-benar merasa kesal. Rasa amanku dan harga diriku terusik, dan aku jadi ingin menguasai keadaan, menyombongkan diriku supaya orang tahu bahwa hakku telah dilanggar dan bahwa aku tidak akan melepaskan mereka begitu saja. Tetapi dengan begitu aku mengambil alih pembalasan yang merupakan hak-Mu dan mencuri kemuliaan-Mu. Ampuni aku, Tuhan. Aku tidak mau marah-marah. Aku hanya ingin belajar berkenan kepada-Mu, belajar mengikuti tarian ini dengan sempurna agar indah di mata-Mu. Bersabarlah denganku dan tolong aku untuk lebih cepat mengenali situasi serupa supaya jangan lagi aku berdosa kepada-Mu seperti tadi."

Lantas bagaimana kelanjutannya? Unfortunately, aku masih jatuh sekali lagi untuk dosa serupa hari ini, dan sekali lagi aku harus minta ampun kepada Tuhan. Paling tidak kali ini aku dapat segera berdamai dan membereskan dengan orang yang bersangkutan, walaupun tentunya masih miss dari standar Tuhan yang sempurna. God knew it was coming. He knows me. Aku hanyalah seorang penari amatir di kelas Grand Master, berusaha mempelajari sebuah tarian yang sama sekali asing. Roh Kudus-Nya sendiri yang mengajarku dan membimbing setiap langkahku, dan Ia akan terus bersabar denganku sampai aku dapat menguasainya. Perjuanganku untuk mengejar kekudusan-Nya tidak akan pernah sempurna, tetapi Ia sudah mengantisipasinya dengan penebusan-Nya yang sempurna, sekali untuk selamanya. Oleh darah Grand Master yang tercurah di Kalvari aku boleh stay on the dance floor until I finish the dance with Him–bahwa aku seorang penari yang buruk tidaklah menjadi soal sebab aku berada di dance floor itu sebagai anak tebusan Allah yang membawa sukacita bagi hati-Nya.

Professional Daughter

September 14th, 2007 by graceclarissa

Ceplas-ceplos, berantem, baikan, tambah dekat. Kira-kira begitulah metode aku dan Mama mendekatkan diri di awal-awal kepulanganku ke rumah tahun lalu. Metode ini sempat berkelanjutan selama beberapa bulan. Syukurlah, sejak memasuki tahun 2007 frekuensi pertengkaran kami jauh berkurang, dan puji Tuhan sudah tidak terjadi lagi beberapa bulan terakhir ini. Maklum, aku anak yang sulit, banyak maunya, dan merasa tidak dimengerti; walaupun persepsi tersebut mungkin bukan kenyataan melainkan buah dari penghakimanku sendiri.

Meskipun demikian, kami tidak menyerah. Aku mengasihi Mama dan hanya ingin dimengerti dan diterima apa adanya. Demikian pula aku belajar menerima bahwa ibuku bukanlah seorang sempurna; aku hanya ingin belajar menyayanginya sebagaimana dia ada. Ini bukanlah hal mudah, mengingat bahwa tujuh tahun sudah aku tidak berada di sisinya–setengah dari masa remajaku dan seluruh masa dewasaku selama itu kuhabiskan jauh dari dirinya. Alhasil, ketika aku akhirnya pulang ke rumah di usia 21 aku tidak kenal ibuku sendiri; beliaupun tidak benar-benar mengenalku. Terus terang, sebagian dari diriku sulit menerima kenyataan ini, tetapi itulah realita yang harus kami hadapi agar pemulihan dapat dimulai. Bagaimanapun keadaan kami yang sesungguhnya, aku hanya ingin melalui prosesnya agar aku dapat mengenal ibuku dan menikmati kasihnya. Berapapun harganya, tembok pemisah di antara kami harus runtuh dan intimacy harus tercapai.

Kami sama-sama tidak tahu harus mulai dari mana, tetapi tekad kami sudah bulat. Maka dari itu kami mulai saja mengusahakan kedekatan di antara kami dengan apa yang kami tahu, sebagaimana kami ada ketika itu. Pengenalan merupakan sebuah proses belajar di mana banyak kesalahan akan dibuat. Kami banyak mengucapkan kata-kata yang bodoh, membuat orang yang lain tersinggung; tak jarang pula nada bicara kami melengking, pintu dibanting, dan air mata berderai. Namun di balik pertempuran sengit antara aku dan ibuku ada sebuah kasih yang absolut yang melebihi segala kemarahan dan kekecewaan kami. Memang tidak sempurna, tetapi kasih tersebut sangat fleksibel dan mengampuni. Pada akhirnya, memang pertengkaran yang kami laluilah yang perlu terjadi agar kami dapat bebas mengemukakan isi hati kami dan jadi mengerti orang lainnya.

Aku tidak takut dilabel anak kurang ajar; cukup aku dan Mama yang tahu bahwa itu tidak benar. Sebagai anak Tuhan, dengan metode serupalah hubunganku dengan Bapa Sorgawi dibentuk. Menurutku itu bukan sesuatu yang aneh. Bahkan nabi-nabi kesayangan Allah seperti Ayub, Daud, dan Yakub dikenal untuk banyak berdebat dan "bertengkar" dengan Yang Mahakuasa dalam proses mengalami keintiman yang lebih dalam lagi dengan-Nya. Kalau Tuhanku memang Tuhan yang sama, mengapa aku tidak boleh melalui proses yang serupa? Dan jika dengan Raja alam semesta saja aku banyak bergulat dan mencerca dalam proses menjadi intim, mengapa dengan ibuku yang sesama manusia saja aku harus takut ribut? Toh bila itu semua sudah selesai, tangan kami terbuka untuk kembali saling menerima, kami membalut luka-luka yang tercipta dari pertempuran yang telah usai, dan hati kami menjadi semakin dekat. Metode boleh berantakan, tetapi tujuan kami tercapai dan kami memuliakan Tuhan karenanya. Alhasil, pada saat ini aku sangat akur dengan ibuku. Aku tahu bahwa kasihku dan hormatku kepada dirinya murni karena itu telah diuji. Ketika aku menjadi orang yang paling sulit untuk dikasihi pun Mama tetaplah seorang ibu yang kasihnya terbukti setia.

Kendati begitu, aku tidak puas. Keakraban yang sama belum tercipta antara aku dan ayahku karena Papa tidak memiliki toleransi yang sama. Ya, Papa tidak salah. Seandainya tahu cara-cara yang lebih baik, tentunya aku juga tidak ingin perjuanganku untuk dapat kembali akur dengan Mama diwarnai dengan begitu banyak pemberontakan dan pertengkaran yang menyayat hati. Akan tetapi, jika untuk angkat bicara kepada Papa saja aku harus selalu menjaga agar egonya tidak terserang (dan agar ia jangan balik menginjak-injak perasaanku), rasanya sangat sulit untuk dapat menjalin keakraban yang serupa di antara kami. Mama sebagai pasangan setia Papa saja mengakui bahwa ia sulit menjalin kebebasan hubungan Papa yang emosinya memang kurang dewasa; bagaimana dengan aku yang berstatus anak dan sekian lama tidak berada bersamanya? Kalau berkata atau berbuat salah akan justru membuat tembok pembatas yang sudah ada bukannya roboh tetapi justru semakin tinggi dan tebal, dari mana aku harus mulai? Bukankah seorang ayah seharusnya memiliki kasih seorang Bapa yang cukup kuat dan lentur untuk menahan keluhan dan uneg-uneg yang jujur dari hati nurani anaknya? Terkadang aku berpikir mungkinini hanya soal perbedaan budaya–teman-temanku yang orang Chinese dan orang Jawa biasanya sangat hati-hati untuk selalu bersikap hormat kepada orangtuanya walaupun itu berarti mereka tidak bebas mengungkapkan isi hati mereka. Seolah-olah menurut mereka makan hati itu tidak apa-apa, yang penting tetap mendapat perkenanan orangtua. Sementara aku dan ibuku orang Indonesia timur yang sangat mengerti budaya Barat sehingga kami cenderung lebih terus terang dan agak emosian tetapi bertoleransi tinggi. Menurut kami perkenanan yang genuine hanya dapat terjalin apabila hubungan yang damai di antara kami tidak menuntut adanya uneg-uneg yang tak terselesaikan di bawah permukaan. Karena itu, mengenai Papa aku sulit menerima hal ini: If he is my father, why should I rehearse my lines before I can have a conversation with him?

Malam ini aku duduk di seminar Pendeta Daniel Ayakannu. Terlepas dari tema utamanya, aku tak ingat kami sedang menyinggung apa persisnya; hanya beliau tiba-tiba memberi contoh kocak tentang dua jenis montir ponsel di Malaysia: yang profesional dan yang otodidak.

Tidak peduli jenis mekanik yang mana yang menangani, it’s an interesting experience. Yang satu sudah bertahun-tahun secara formal mempelajari mekanisme ponsel. Mungkin ia bahkan dapat memamerkan sertifikat ini dan itu yang memberinya kualifikasi resmi sebagai montir profesional yang terpercaya. Ia menggunakan alat-alat yang sesuai dan metode-metode yang mulus untuk memastikan bahwa seluruh proses perbaikan ponsel berjalan dengan rapi. Ia memperlakukan seluruh komponen ponsel dengan lemah lembut; segala sesuatu yang dilakukannya jelas dan memberi sejahtera bagi orang yang melihatnya.

Sementara, yang otodidak tidak pernah secara formal belajar teori, metode, dan tetek bengek tak penting lainnya. Pokoknya ia tahu bahwa tujuan akhirnya adalah membuat ponsel berfungsi kembali sebagaimana mestinya. Ia mendapatkan pengalaman menangani ponsel-ponsel lain dengan terjun bebas ke dalam masalahnya, dan secara instingtif menciptakan jalan keluar. Mungkin seorang montir profesional meringis melihat jalan-jalan montir otodidak, yang menurut persepsi profesional adalah sembrono. Mungkin montir otodidak menggunakan linggis untuk membuka body ponsel dan merusak beberapa komponen. Mungkin karena terlalu nyantai ponselnya sempat tersiram kopi. Ngaco. Pokoknya prosesnya serba berantakan. Tetapi ajaibnya, ketika perbaikan sudah selesai, ponsel kembali berfungsi seolah masih baru. Entah apa yang dilakukan sang montir–kelihatannya tidak masuk akal–yang pasti hasil akhirnya sempurna.

Setiap kali aku teringat kepada ilustrasi ini aku pasti tertawa. Jika hubunganku dengan Mama bisa diibaratkan ponsel yang tadinya rusak tetapi sudah berfungsi kembali, agaknya ponsel yang menghubungkan aku dengan Mama ditangani oleh "montir otodidak". Prosesnya awut-awutan dan orang mungkin tidak mengerti bagaimana ibu dan anak yang bisa bertengkar demikian sengit pada akhirnya bisa sangat menyayangi dan intim. Ya, aku dan Mama memang boleh dibilang "ibu dan anak otodidak" yang diasuransikan oleh Roh Kudus dan kasih Kristus yang menyempurnakan segala sesuatu.

Paling tidak, keintiman yang sekarang kumiliki dengan Mama menjadi suatu indikasi bahwa aku sudah memasuki level kedewasaan yang baru. Namun untuk bertumbuh ke level yang lebih tinggi lagi di mana keintiman yang sama boleh terjalin antara aku dan Papa, barangkali aku harus "naik kelas" dari "autodidact daughter" menjadi "professional daughter". Aku tak tahu apa artinya itu persisnya. Pokoknya aku tahu bahwa Tuhan menempatkan kami sebagai satu keluarga untuk saling mengasah dan saling mengasihi. Pemulihan hubungan kami adalah proyek Tuhan–sebuah tarian baru kreasi sang Grand Master–tugasku hanya mengikuti dan stay on the dance floor until the dance is finished.

Ah, jadi teringat nasihat sahabatku Angella dari kunjunganku Agustus kemarin, "Semangat, Ge. Konsekuensi dosa dan kekurangan keluarga boleh menumpuk dan kelihatannya seolah kita yang harus menanggung. Tapi di sisi lain itu privilege, lho… kita diberi kepercayaan untuk initiate secara aktif suatu dobrakan Ilahi untuk memulihkan keluarga-keluarga kita kepada rancangan semula Tuhan. Think about it, itu kehormatan yang besar sekali. Kita boleh jadi orang-orang pertama dalam keluarga kita yang mengimani pemulihan itu dan memberi jalan kepada Tuhan untuk bekerja menurut kemurahan kasih dan kuasa-Nya." Aku tak ingat bagaimana Angella persisnya membahasakannya, tetapi kurang lebih begitulah yang kutangkap. Ia juga sempat mengatakan, bahwa jika aku akan menjadi seorang broadcaster dan jurnalis yang dipakai Tuhan kelak, aku perlu belajar "mengedit" setiap pikiran dan perasaan yang terpancar dari dalam diriku agar jangan ada kata-kata atau tindakan yang keluar dari dalam diriku yang terkontaminasi oleh suatu apapun juga yang dapat menyimpangkan kebenaran Kristus yang kujunjung di hadapan dunia. Jika diterapkan untuk pemulihan keluarga, kurasa itu berarti bahwa aku perlu belajar "mengedit" segala sesuatu yang terpancar dari naluriku agar tidak menyabot kemurnian kasih Kristus yang seharusnya diterima Papa dariku. Seorang putri otodidak boleh seruduk sana seruduk sini dalam prosesnya. Tetapi seorang putri "profesional" yang telah digembleng dan dimurnikan oleh Roh Kudus tahu cara yang lebih baik dan benar.

Papa tersayang, I know I have not been a professional daughter. But if that’s what it will take to bring us where we need to be, I will learn to become one. Please be patient with me. I love you.

Barangsiapa banyak diampuni banyak berbuat kasih. Kasih menutupi banyak sekali dosa.

Me? Dance?

September 9th, 2007 by graceclarissa

Aku tak tahu kenapa aku duduk di ruangan itu. Agak kikuk sebenarnya rasanya. Sebagian dari diriku ingin lari dari sana–merasa out of place di tengah ABG-ABG yang jelas lebih pengalaman dariku–tetapi di sisi lain aku juga tertarik dengan tantangannya.

"Gue sih mau belajar rutinnya aja, tapi giliran perform gak tau, deh," komentar K’Tasia, "Kan kantor K’Tasia dekat rumah Grace, jadi bisa culik buat latihan."

"Anybody can dance," celetuk Dandy sambil cengar-cengir melihat resistansku terhadap gagasan tersebut. Kebetulan, malam sebelumnya kami segeng baru nonton Ratatouille yang ber-catch phrase anybody can cook (euh, termasuk seekor tikus?).

"Yeah, right," gumamku tak percaya.

"Grace ikut dance ya," ajak Jojo dari panggung. Pasrah deh. OK, if he believes I can actually do this, mungkin tak ada salahnya aku stay untuk sekadar briefing.

"Kalau Grace ikut, kita ikut. Grace bolos, kita bolos juga," Vic dan K’Tasia memancing. Di briefing Jojo menambahkan bahwa ia meminta komitmen dari setiap penari yang ikut serta. "Karena kita akan membentuk formasi. Kalau ada yang absen, praktis formasinya jadi ompong dan tarian akan terganggu," ia memberi alasan.

Begitulah suasana briefing prophetic dance squad untuk Natal gereja Desember mendatang minggu lalu. Ya, hanya karena ini bukan inisiatifku sendiri, bukan berarti aku tidak sepenuh hati mendukung pelayanan salah seorang kawanku. Hanya saja selama ini aku tidak pernah merasa kompeten dalam menari. Sejak kecil setiap kali ada pelajaran menari–mulai dari tarian daerah, "senam irama", jazz dancing, atau apapun juga–rasanya aku selalu yang paling mati feeling…dan kalaupun sudah menguasai gerakannya jatuhnya kaku. Pokoknya menari bukanlah suatu bakat yang dapat kutonjolkan. Walaupun demikian, aku toh menikmati setiap kesempatan untuk menari.

Ada beberapa alasan mengapa aku memutuskan untuk mengikuti dance squad ini. Mulai dari alasan manusiawi: karena pintar menari atau tidak, dancing is fun. Kehadiran Vic dan K’Tasia–teman-teman sebaya yang asik–juga ikut mendukung. Selain itu, meskipun aku tidak punya interes menekuni seni tari, aku sedang mempersiapkan diri untuk sebuah karir di atas panggung. Untuk lebih mengerti ilmu panggung dan siapa diriku di atas panggung, aku rela belajar performing arts apa saja dan mengerti ilmu panggung dari perspektif yang berbeda-beda.

Tetapi berhubung prophetic dance squad pimpinan Jojo ini merupakan sebuah pelayanan ilahi, tentunya motifku tidak boleh lepas dari motif rohani yang menguji kehendak Tuhan akan keterlibatanku di sini. Jujur saja, aku lebih sulit menjelaskan yang satu ini. Kita pernah mendengar tentang Raja Daud yang ketika dipenuhi Roh Allah menari-nari dengan semangatnya. Kita juga mendengar tentang Kristus sang mempelai pria dan jemaat-Nya yang adalah mempelai wanita… dan tentunya jamuan kawin mereka akan dirayakan dengan musik dan tarian. Ya, rumah Tuhan selalu identik dengan musik dan tarian yang merayakan kebaikan Tuhan dan persekutuan dengan-Nya yang telah dibayar dengan mahal. Selama satu minggu dari waktu briefing ke waktu latihan perdana aku bertanya-tanya, dengan memimpin aku masuk prophetic dance squad ini Tuhan bermaksud mengajar aku apa.

Kemarin siang jam setengah satu latihan perdana dimulai. I felt funny in my On Fire T-Shirt & orange sweatpants. Karena satu dan lain hal, teman-teman twentysomethings-ku belum berada di dance floor ketika pemanasan dimulai. Padahal kursi-kursi di pinggir ruangan yang sudah mulai dijejali jemaat yang penasaran kepingin menonton. Ketika Jojo menyuruh kami membentuk lingkaran dan memanggil para penari untuk "freestyling" satu per satu di tengah lingkaran, aku praktis salting saja dan melarikan diri! Mengikuti basic dance di pemanasan tadi saja aku kewalahan; rasanya nyaliku yang ciut tidak akan mengizinkanku untuk jadi pusat perhatian dengan cara demikian. Vic yang prihatin sampai menarik aku ke kamar mandi untuk mengajari aku sebuah move (thanks, sis). Sungguh memalukan! Sudah diberi contoh pun aku masih sulit mengikuti. Rasanya aku pasti penari yang paling jelek di antara mereka semua–ditonton pula oleh orang-orang yang kaget melihatku di sana, "hah, Grace ikutan dance, nih?"

Walaupun begitu aku tak menyerah. Aku kembali ke dance floor dan menemukan bahwa dance routines telah dimulai. I’m here because I have goals and I’m not leaving before they’re accomplished. Kusadari, aku di sini bukan karena dibutuhkan–di sini sudah banyak orang yang lebih pintar menari daripadaku. Kalau kukatakan aku ikut, aku stay lebih untuk integritasku daripada untuk mendukung pelayanan teman.

Setengah jam pertama dari latihan itu rasanya sungguh menyiksa. Egoku benar-benar terinjak karena aku tidak kunjung bisa mengikuti tariannya, dilihat orang pula. Tetapi kemudian aku teringat mengapa aku berada di sana: aku mau melayani Tuhan, menari untuk Tuhan. Aku pun mulai berdoa, "Tuhan, aku gak pintar menari, tapi ini ibadahku kepada-Mu. Roh Kudus, pakailah waktu ini untuk menyingkapkan sesuatu tentang diri-Mu."

Tiba-tiba aku mendapat hikmat untuk tidak repot-repot mengikuti gerakan tangannya, konsentrasi saja dulu pada langkah kakinya. Memang itu pun masih salah-salah, tetapi paling tidak beban mentalku jauh berkurang. Tak disangka, aku pun mendapat wahyu.

Pertama, aku teringat pada cita-cita jangka pendekku untuk menembus dunia broadcasting ibukota. Sekilas tidak ada hubungannya dengan menari, tetapi sama-sama ilmu panggung. Dalam berkonsentrasi menekuni ilmu broadcasting beberapa bulan terakhir ini, kusadari bahwa membawakan acara bukanlah hal mudah. Chocho produser Katakan Cinta mengatakan, "Banyak orang camera face tetapi hanya sedikit yang bisa face the camera."  Puji Tuhan aku diberi karunia untuk menikmati dan menguasai berbicara di depan kamera. Walaupun demikian, talenta tersebut bukannya baru kukembangkan tiga-empat bulan terakhir ini–walaupun secara tidak formal, aku sudah bertahun-tahun belajar dan mempraktekkan public speaking dan ilmu komunikasi. Kebetulan aku mulai mengembangkan talentaku duluan dibandingkan daripada mereka-mereka yang kurang fasih menghadapi kamera. Selain itu, walaupun aku mensyukuri kompetensi yang telah dikaruniakan kepadaku, aku tidak merasa hebat. Aku belum apa-apa dibandingkan dengan mereka yang memang sudah "eksis" di dunia broadcasting. Kalau aku serius mau meniti jalur tersebut, aku masih harus belajar banyak lagi dari orang-orang yang sudah lebih senior dariku, dan hanya dapat mencapai tujuan oleh dukungan banyak pihak. Aku tidak boleh lupa, ini semua karunia, pemberian Tuhan kepada seorang Grace yang bukan apa-apa.

Aku mungkin sudah lupa bagaimana rasanya dan sulit mengerti orang yang gugup dengan kamera atau grogi berdiri di panggung untuk berbicara. Tetapi dalam kesulitanku mengikuti tarian kemarin aku jadi dapat merasakan apa yang dirasakan oleh mereka-mereka yang lebih "junior" daripadaku dalam public speaking atau seni membawakan acara. Kurasa itu juga jadi sebuah peringatan agar aku selalu bersikap rendah hati di depan siapa saja, dan gracious dalam berbagi ilmu dan mendukung "junior" yang mau maju. Aku beruntung Tuhan mengirim banyak "senior" dalam hidupku yang menerimaku dengan tangan terbuka dan suportif mendorongku untuk maju. Di latihan tari kemarin, aku terutama melihat contoh yang demikian dari Jojo yang berperan sebagai pelatih.

Pelajaran kedua yang kudapat, aku melihat bahwa bergabung dalam kerajaan Allah itu ibarat bergabung dalam sebuah kelas tari. Sebagai orang baru kita melihat banyak penari–atau banyak anak Tuhan–dari berbagai latar belakang. Ada yang sudah biasa menari sehingga cepat menangkap bila diajari tarian baru; gerakannya jatuh luwes dan indah. Ada juga yang kurang pengalaman dan lebih sulit menguasai materi. Ada juga yang sama sekali baru seperti aku, dan seluruh tarian ini terasa sangat asing, misterius, dan mustahil dimengerti. Tetapi siapapun penari di ruangan itu, sefasih apapun, tariannya tidak ada yang sempurna. Tarian ini bukan soal tarian yang sempurna tetapi simfoni dari banyak orang yang bergerak bersama-sama, dan keindahan dari kebersamaan itu. Kusadari, aku berada di kelas Jojo bukan karena pintar menari tetapi karena diajak teman-teman. Demikian pula aku berada di dance floor kerajaan Allah bukan karena aku layak berada di sana, tetapi oleh karena panggilan sang Grand Master.

Grand Master tidak dapat memperlambat tarian bersama demi meladeni penari-penari yang lebih junior. Mungkin pada saat itu tarian Grand Master terasa impossible dan sang penari ingin quit–karena toh Grand Master tidak membutuhkan dia dan masih banyak orang lain yang dapat menari lebih bagus. Penari itu mungkin bertanya, jika sang Grand Master memang Sahabat-ku dan bahkan lebih dari itu, mengapa Ia tidak memperendah standar-Nya atau memperlambat agenda-Nya supaya mudah kuikuti? Padahal untuk berada di dance floor ini aku banyak berkorban. Tidak, Ia seorang Grand Master yang sempurna dan tidak kenal kompromi. Penarilah yang mengikuti agenda Grand Master dan irama-Nya, dan bukan sebaliknya. Akan tetapi di sisi lain Dia juga seorang Grand Master yang sabar dan akan terus mengajar serta mengulang tarian tersebut sampai kita bisa. Hanya syaratnya, kita harus tekun dan setia sampai akhir. Tidak apa-apa kalau kesulitan mengikuti dance-Nya, yang penting kita tidak meninggalkan dance floor.

Seperti itu jugalah kehidupan rohaniku dimulai. Saat aku mengaku Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamatku di usia 12, I did not know what that really meant. Kemudian di usia yang dini aku meninggalkan rumah orangtua dan langsung diekspos ke sebuah dunia orang kafir di mana kebenaran Tuhan selalu di-challenge, dan segala sesuatu sarat dengan tipu muslihat, kebutaan akan kebenaran, sikut menyikut, alkohol dan seks bebas. Rasanya tuntutan untuk hidup kudus merupakan mission impossible. Yang pasti aku tidak bisa. Aku pernah ada di satu titik di mana aku marah kepada Tuhan, mengapa Ia menuntut aku untuk melepaskan hal-hal yang berarti bagiku dan menguduskan diriku padahal rasanya hadirat-Nya tidak nyata. Rasanya tidak ada bedanya apakah Tuhan benar ada atau tidak. Banyak orang kelihatannya hidup baik-baik saja tanpa Tuhan.

Tetapi sebelum aku tiba di titik itu aku sudah terlanjur pernah menyaksikan orang-orang yang "berdansa" dengan Tuhan… dan di lubuk hatiku yang terdalam aku masih sangat menginginkan indahnya romansa yang sama di antara mereka untuk menjadi milikku. Tuhan tahu. Oleh karena itu, di saat aku siap untuk lari, dikejar-Nyalah aku bagai seorang kekasih yang terhilang. Tuhan tidak pernah lupa, di antara aku dan Dia ada sebuah perjanjian yang tidak dapat dibatalkan: perjanjian bahwa Ia adalah Allahku dan aku adalah umat-Nya, dan bahwa tidak ada suatu apapun di bawah kolong langit yang dapat memisahkan aku dari kasih-Nya.

Akhirnya, ada waktu masuk kelas, dan ada pula waktu kelas bubar sehingga aku boleh bersekutu dengan keluarga dan sahabat-sahabatku. Demikian pula ada waktu untuk berjuang di dalam panggilan pekerjaan Tuhan, dan ada waktu untuk berhenti dari segala pekerjaan mulia dan masuk tempat perhentian-Nya. Di sanalah Ia memberi kita lebih mengerti agenda-Nya dan memoles penguasaan kita akan tarian-Nya. Ia memperlengkapi roh kita dengan cara-cara yang tidak dapat ditangkap oleh nalar dan kesadaran kita. Tetapi lebih dari itu, di tempat perhentian itulah Ia membuka hati-Nya kepada kita, menceritakan rahasia-rahasia-Nya, memanjakan kita dengan intimacy yang begitu eksklusif. Ada kalanya aku berdansa di tengah balatentara Allah, tetapi ada pula saatnya di mana aku menikmati berdansa berdua dengan-Nya, mendengar detak jantung-Nya, merasakan hangat nafas-Nya di leherku, lembut bisik-Nya di telingaku. Ini menjadi hakku yang istimewa sebagai mempelai wanita-Nya; karunia yang telah dibayar mahal oleh pengorbanan Kristus. Aku, seorang mantan penjahat yang telah menyalibkan Anak Allah, ditebus oleh darah-Nya sehingga hukuman yang seharusnya jatuh padaku ditanggungkan kepada-Nya… dan intimacy yang seharusnya merupakan milik Anak Allah dan Bapa-Nya menjadi milikku. Oleh Dia yang sekarang hidup dan duduk di sebelah kanan Bapa untuk bersyafaat bagi orang-orang kudus, sukacitaku menjadi penuh.

"Yes, you. Dance. With Me." -God-

…and then some indeed!

September 1st, 2007 by graceclarissa

Well, that’s what I had to say (in "26 hours and then some", 1 September 2007) about true friends. Tapi yang tak pernah berhenti membuatku takjub adalah ketika kita mengalihkan mata kita dari berkat Tuhan dan mengutamakan kekaguman kita kepada Penciptanya, Yang Mahakuasa justru memberi kita lebih dari apa yang pernah kita rasakan atau miliki sebelumnya.

Berakhirnya perjalananku ke Amerika kali ini menandai mulainya sebuah musim baru dalam hidupku. Musim yang lama, yang isinya penantian, kekosongan, dan kesepian telah berlalu. Itu merupakan sebuah musim dingin berkepanjangan di mana rasanya Yang Mahakuasa mengambil daripadaku segala sesuatu yang berharga dalam hidupku dan meninggalkanku "telanjang" di hadapan-Nya, tanpa suatu apapun untuk dibanggakan. Terus terang kadang-kadang aku merasa lebih baik mati saja. Hanya ketika aku sadar bahwa Tuhan masih peduli dan belum selesai bekerja, barulah aku belajar mempersembahkan kepada-Nya sebuah hati hancur yang murni, tanpa tercemar kebanggaan dan keangkuhan apapun di balik prestasi yang dimegahkan manusia… hanya sebuah hati hancur yang satu-satunya penghiburannya adalah kasih karunia Tuhan yang melampaui segala akal manusia. Namun justru saat aku mulai bisa berbahagia dalam ketiadaan apapun untuk dibanggakan, Tuhan mengembalikan kepadaku hal-hal yang dirindukan hatiku dari tempat-tempat yang tidak disangka-sangka. Bukan berarti aku sudah sempurna dan musim yang baru akan bebas dari frustrasi; tetapi setiap saat Allah menyatakan bahwa aku siap "naik kelas" aku boleh mengenal-Nya sedikit lebih dalam, boleh merasa sedikit lebih intim dengan-Nya, boleh lebih terkagum oleh siapa diri-Nya–Allah yang kusembah ini–dan boleh beroleh perspektif yang lebih baik dari kehidupan dalam indah rancangan-Nya.

Aku percaya bahwa musim yang baru ini akan dipenuhi dengan hubungan-hubungan dan persahabatan-persahabatan yang sehat–yang untuk satu dan lain alasan tidak ada, atau bentuknya sangat lemah di musim yang lama. Aku mulai bisa melihat bagaimana setiap orang Tuhan izinkan masuk hidupku untuk maksud tertentu–untuk membawaku mengenal Tuhan dari perspektif-perspektif yang baru dan pada layer-layer yang baru, dan agar aku lebih mengerti tujuan hidupku di dunia ini. Walaupun, penggenapan dari itu semua harus diuji dan diteguhkan dulu, tentunya. Aku tidak boleh lupa, bahwa di mana aku merasa aman, musuh pasti siap menyerang; apalagi setiap orang yang Tuhan tempatkan dalam hidupku adalah manusia yang penuh kekurangan dan telah kehilangan kemuliaan Allah, sama seperti diriku sendiri. Aku harus bermegah dalam Tuhan dan bukan dalam manusia. Dan dalam mengimani hadirat Tuhan di tengah kami, aku percaya bahwa kemuliaan Allah sendiri yang akan menutupi segala kekurangan kami dan memampukan kami untuk saling mengasihi dengan kasih Kristus. Ya, itulah doa terakhir Tuhan Yesus sebelum mati menanggung dosa kita semua: agar murid-muridnya bersatu dan saling mengasihi supaya dunia tahu bahwa Ialah Mesias yang diutus Allah Bapa.

Untuk semua teman yang mengambil bagian dalam hidup Grace–baik yang lama maupun yang baru, baik yang jauh maupun yang dekat–I just want to say thank you for your irreplaceable role in my life in painting a clearer picture of the God I worship and shaping the person I am today. I love you.

And yes, I’m looking forward for more friendships and opportunities to blossom in this new season. LSPR starts Monday, by the way ;-)

26 hours and then some

August 28th, 2007 by graceclarissa

Another late posting… but anyway better late than never.

Best friends. You know, the kind who still stands up for you when everybody else is spitting in your face.  I have one. Her name is Angella.

Aku bertemu Angella di SD YPJ KK tahun 1996… kami generasi wisuda perdana.  Tahun 2000 the inevitable came… kami masuk kelas 3 SMP dan harus berpisah. Aku  miss wisuda SMP dan keburu merantau ke Australia, tetapi Angella dan adik-adiknya hijrah ke Amerika di akhir tahun ajaran di mana mereka menetap hingga kini. Tahun 2002 ketika aku memutuskan untuk kuliah di Amerika kukira aku bisa lebih sering berhubungan dengannya dan membina persahabatan kami lebih strong lagi… tetapi pada akhir tahun aku dikeluarkan dari college tersebut. Paling tidak kami dengan senang hati menghabiskan Natal’02-Tahun Baru’03 bersama… tetapi ternyata Yang Mahakuasa menutup jalan bagiku kembali ke Amerika dan sebagai gantinya memimpinku ke Belanda. Kurasa Yang Mahakuasa tahu, hidup di Belandalah yang kuperlukan untuk memotong tali pusat dengan masa lalu dan mulai mencari wajah Tuhan dengan menguduskan diri… bukan kehangatan dan familiarity aura manusia.

Dan Tuhan memang membuktikan diri-Nya setia dan adil… saat kita merelakan hal-hal yang paling berharga bagi hidup kita dan memutuskan untuk memberi Raja di atas segala raja tempat yang lebih tinggi daripada hal-hal itu–meskipun itu berarti Ia samasekali memisahkan kita darinya–ia akan mengembalikan lebih daripada yang kita sangka-sangka. Ya, seperti Abraham yang tidak sungkan-sungkan mengorbankan anak kesayangannya ketika Allah memintanya, atau wanita berdosa yang tidak sungkan-sungkan memecahkan buli-buli narwastunya yang mahal dan mencurahkan minyak wangi itu di kaki Tuhan Yesus. Pada akhirnya Tuhan akan menghargai persembahan yang menghancurkan hati kita. Begitulah pertemuanku dengan Angella kali ini.

Waktu kami hanya sebentar namun sangat berharga. Mulai dari ultah Defic ditemani film Denias, worship night dengan Sidney Mohede malam Jumat kemarin, dan "girls night out" setelah makan malam dengan keluarga Tashki yang ter-extend menjadi 26 jam. Kami berjalan-jalan di downtown Seattle dan saling berbagi… past, present, future. Yah, aku, sih, yang jadi lebih banyak cerita–but still we had a great time. Melihat kembali, aku sendiri cukup terkejut apa saja yang kubuka di hadapannya–things I never tell the world–my joys, my pains, and my darker side–dan ia masih saja menemuiku dengan kasih dan penerimaan yang sama… juga dengan penuh perhatian dan concern.

Some things I learnt from meeting Angella this time:

  • I guess I’m not the only early-twenties girl who feels that I don’t need my dad. But that’s not an excuse to not work on the relationship… it’s just an indication that a lot of healing still needs to take place, which is the work of our perfect, loving God.
  • Sadar, Bu… laki-laki dan perempuan itu tidak sama… jadi sabar saja dalam menghadapi perbedaan-perbedaannya. Yang penting kita diciptakan untuk saling melengkapi, walaupun untuk bisa saling melengkapi sebagaimana maksudnya itu memerlukan perjuangan yang keras.
  • Buanglah segala kepahitan–walaupun sedikit demi sedikit–maka Tuhan akan menggantikan segala kepahitan yang kita lepaskan itu dengan manis hadirat-Nya.
  • Jangan biarkan masa lalu yang penuh dengan kesalahan menghalangi Allah dari menggenapi rencana-Nya yang sempurna dalam hidupmu. God’s agenda overrules.
  • Jika kenyataan-kenyataan yang sulit terungkap kepadamu, adalah tanggung jawabmu untuk menyatakannya kepada yang berkepentingan untuk tahu. Mintalah keberanian dan hikmat untuk berkata-kata maka Tuhan akan memberikannya padamu. Always use discretion to protect others’ dignity with love, but never keep secrets because secrets only hurt.
  • Berbahagialah jika ujian hidupmu selama ini berat… karena bila tiba waktunya Allah akan menggunakan ujian-ujian tersebut untuk menyatakan kemuliaan-Nya dalam hidupmu dan hidup orang lain, dan membawa kekuatan yang luar biasa dalam hidup mereka.
  • Live by God’s grace… day by day

Dan masih banyak lagi sebenarnya pelajaran-pelajaran berharga yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Aku hanya terkagum-kagum bagaimana kepribadian kami begitu berbeda… kehidupan kami begitu berbeda… but we have so much in common when it comes to our dreams for the future and the battles to overcome in order to get there… dan Pribadi yang bergerak di belakang semua ini adalah Allah yang sama, yang hidup, dan berdaulat. That’s another reason to get down on my knees and worship my Creator.

Yes, La, I believe we will meet again. Thank you for your friendship and may God bless you abundantly always.

PS Hidup KORSLET selamanya!

I’m going home… to the place where I belong

August 28th, 2007 by graceclarissa

12:37 PM Pacific Time… room 216 Extended Stay, Bellevue… kira-kira sepuluh setengah jam sebelum meninggalkan tempat ini dan tiga belas jam sebelum lepas landas dari Tacoma Airport. Grace duduk di depan komputer Michael ditemani album perdana Flyleaf yang aku lagi suka banget itu … merenungkan kembali what the past three weeks has been all about.

Highlights of my trip:

  • DigiPen Freshman welcome dinner at Red Robin, Overlake, tadi malam. Duduk semeja dengan Dana (teman serumah Mike yang nerd abis… tapi sebenarnya baik hati), Hai (rupanya bekas adik kelasku dan kakak kelas Michael di Pembroke dulu… funky abis!), dan Mike. Sempat ngobrol-ngobrol juga dengan teman-temannya yang lain yang baru pulang liburan dan siap memulai satu tahun ajaran lagi di DigiPen. Memang agak susah nyambung ngobrol sama sejumlah college kids yang passion-nya adalah komputer, teknologi, dan games… suatu dunia yang benar-benar asing untukku… tapi kulihat Mike punya teman-teman yang baik dan membangun… mereka begitu dedicated kepada profesi yang akan mereka tekuni and they take care of each other. I can only be thankful.
  • Dinner with Tashki, Joshua, Tante Marissa, Oom Aji. Mereka sekeluarga kelihatan menikmati hidup di Amerika yang serba kerja keras ini. Rupanya kebetulan Oom Aji pas ultah ke-50 pula.
  • Reuni dgn Angella sekeluarga. Kami bertemu beberapa kali: pertama pas Defic ultah tanggal 13, makan malam di rumah mereka sambil nonton Denias dan bernostalgia tentang Papua. Kemudian juga tanggal 24–Friday Night–worship night with Sidney Mohede. Keesokan harinya, selesai dinner dengan keluarga Tashki, Grace pun ‘diculik’ dari Chinatown. Berhubung sama-sama cewek sanguin, ‘girls night out’ pun nge-flow aja… akhirnya Grace nginap di rumah baru Angella & stayed Sunday morning for church, lunch, mampir rumah lama dulu, terus jalan lagi & ngobrol panjang sampai jam 11 Sunday Night.
  • Kumpul dengan anak-anak Talk Time. TT adalah salah satu pelayanan Mike di Westminster Chapel di mana orang asing dan international students diundang setiap Kamis malam… yang mau belajar conversational English bisa duduk di meja dan dapat lesson dari host (sekalian sedikit perkenalan kepada kabar keselamatan)… atau sekadar datang saja untuk kumpul-kumpul dan "membina hubungan". Bagi banyak international students, TT menjadi lingkungan second home buat mereka selagi merantau. Sunday nights banyak anak TT kumpul lagi di rumah Jessica untuk Alpha Course… tetapi berhubung Alpha sedang libur mereka datang saja untuk bersosialisasi.
  • Washington, DC, 2 hari kumpul dengan Oom Elmi, Tante Gali, dan Lea. I’m just encouraged to see God’s provision and blessings in this family, lifted up with the catch-up, and looking forward for more in the future.
  • Vancouver, Canada. Nothing much, just learning to bear with my family… learning to love and enjoy them under all circumstances.
  • Afternoon with Rich Lee, leader komsel pria dewasa muda di mana Mike berfellowship. Selesai lunch di California Pizza Kitchen, kami jalan-jalan ke Snoqualmie Falls. Wah… jarang-jarang Grace dapat kesempatan lihat air terjun… apalagi yang ini jernih sekali… pokoknya menghabiskan satu sore mengagumi alam ciptaan Tuhan.
  • Besuk Koti, mantan teman serumah Mike dan worship pastor Westminster Chapel yang tengah terbaring (euh…terduduk?) di Rumah Sakit karena kecelakaan mobil yang menimpanya beberapa minggu lalu. Walaupun aku tidak kenal Koti, melihatnya kepalanya yang sudah diplotos dan tubuhnya yang terpaku pada kursi roda cukup memilukan hati… bisa dibayangkan seandainya itu temanku sendiri. Dokter memperkirakan mungkin Koti tidak akan pernah berjalan lagi…rasanya sulit membayangkan bagaimana nubuatan-nubuatan baginya untuk menjadi seorang worship leader dan melayani anak-anak muda akan digenapi. Tetapi yang amazing adalah dalam keadaan yang demikian Koti kelihatan begitu tabah dan tetap bersukacita. Di gereja Westminster Chapel pun nama Koti masih sering disebut dan para penatua memperkatakan iman bahwa Allah sendiri akan mengerjakan suatu mujizat dan menyembuhkannya secara total–apapun artinya itu. Yang pasti menurut definisi, waktu, dan cara-Nya; dan bukan menurut pengertian kita, manusia fana. Tubuh, jiwa, dan roh Koti ada di bawah otoritas Tuhan Yesus Kristus; dan tidak peduli apa yang terjadi kepada Koti, rencana Tuhan tetap overrule.
  • Waktu keluarga. Tuhan Yesus, terima kasih untuk keluarga yang memperjuangkan kesatuan dan kebersamaan. Aku percaya Engkau terus memulihkan dan menyempurnakan. Waktu inilah persembahan kami kepada-Mu.

Kurasa akhir dari perjalanan kami ini juga merupakan akhir dari sebuah musim dari hidupku. Sekian bulan–mungkin bahkan tahun–aku menjadi seorang janin yang meringkuk di dalam rahim rencana Allah dalam hidupku; bergantung kepada kasih karunia apapun yang disalurkan melalui tali pusat keluarga, kawan-kawan, dan gerejaku; berenang dalam air ketuban perlindungan mereka; dan dengan perasaan campuraduk menunggu… menunggu… menunggu. Well, the baby is about to be born. Aku akan keluar dari rahim itu sebagai seorang bayi yang rapuh dan tak berdaya, tetapi aku dapat percaya bahwa tangan Allah sendiri yang akan memeliharaku, menulis kisah hidupku, dan memampukan aku untuk mengembalikan kemuliaan kepada nama-Nya. Aku telah menggenapi waktuku di dalam rahim… aku akan segera lahir… and I’m coming home… to the place where I belong.

(title adapted from Daughtry’s Home, album Daughtry)

August 27th, 2007 by graceclarissa

Not your typical graceclarissa blog entry… tapi boleh banget dibaca ;-)

Grace masih di hotel Extended Stay, Bellevue…2 more sleeps until SEA-TPE-CGK and I’ll be home… I’ve had 3 weeks "karantina" bersama kedua ortu dan adik tercinta, 2 days dgn Oom Elmi Tante Gali & Lea, and just a little bit more than 26 hours with my best friend. It hasn’t been an easy trip, but I know God’s at work… and simply put,
it’s been awesome. Thanks for keeping me in your prayers, love you all ^_^

Udah kangen berat sama Jakarta… pengen ketemu temen2 yg banyak berkati hidup
Grace… excited dgn hidup baru sebagai mahasiswi LSPR & the struggle untuk
menembus dunia broadcasting ibukota… have a lot of growing up to do… dan
ingin bisa mengasihi ortuku dgn lebih sempurna. I’m looking forward to
come home. Walaupun di sisi lain ini brarti gw pisah lagi sama ade gw… i
used to think it would get easier krn gw udah sering say goodbye sama dia… but
it’s not. I’m thankful for the little time we spent together, but I’ll miss
him… will be thinking about him every day… and hopefully sometime in the
future the hello’s will be longer and more meaningful. I’m proud of you, bro.

Grace lagi suka lagunya Flyleaf "All Around Me" dan Kutless, "Promise of a
Lifetime" dan "Strong Tower." Check them out on MySpace!

Further stories will be posted… stay tuned!

“Saya Grace Susetyo dari Washington, DC, melaporkan”

August 23rd, 2007 by graceclarissa

Hehehe… permainan favorit Grace & Lea. "Looks like it runs in the family?" komentar Mr Goodman, bos Oom Elmi, dengan renyah. Ya, mungkin. Entahlah.  Bagaimanapun juga, it is a pleasant thing bila bakat-minat kita ternyata mendapat dukungan dari banyak sumber… dan terlebih pleasant lagi bila ditemani si junior yang potensinya sudah mulai kelihatan. Ya, tak heran… bapaknya kan termasuk salah seorang "sesepuh" dalam industri ini.

Sudah sekitar empat tahun aku tak bertemu dengan keluarga Oom Elmi. Kami memang tinggal berjauhan. Terakhir kali aku bertemu dengan Lea umurnya baru tiga tahun. Sampai umur dua tahun belum bisa bicara, tetapi begitu mulai bisa ngocehnya tak berhenti. Lucu sekali dia dulu. Tak sangka sekarang sudah mau naik kelas dua SD. Lea memang seorang anak yang punya tempat istimewa di hatiku, lebih dari yang kusadari sebelum aku bertemu kembali dengannya. Mungkin karena dia seorang "late addition"–sepupu yang baru hadir setelah kami semua beranjak remaja–atau mungkin juga karena dulu aku ingin punya adik perempuan (walaupun Mike makes a great brother already).

Apapun sebabnya, inilah hal baru yang kutemukan setelah aku memutuskan untuk kembali tampil di tengah keluarga besarku belum lama ini. Aku jadi menyadari adanya suatu benang merah yang membuat ikatan  antara aku dengan familiku lebih kuat ketimbang dengan orang-orang lain yang lebih "eksis" dalam hari-hariku… hanya karena mereka ini keluargaku. Terus terang saja aku tidak sering memikirkan keluarga besarku (keluarga yang membaca, maafkan Grace ya)… and I’m not proud to admit bahwa aku belum teratur berdoa untuk mereka, walaupun aku tahu bahwa ada kebutuhan doa yang cukup besar dalam keluarga besarku. Aku sendiri masih belajar berdoa syafaat–mulai dari seisi rumahku, gerejaku, teman-teman yang sering ketemu, dan kota-negara di mana aku tinggal. I’m working on the rest, termasuk "standing in the gap" untuk keluarga besar di mana aku ditempatkan. Namun tetap saja kutemukan antara berkumpul dengan keluarga besar sesekali vs berkumpul dengan kawan-kawan yang kutemui beberapa kali seminggu, ikatan keluarga tetap lebih kuat. Mungkin karena kawan-kawan–termasuk "forever friends"–sifatnya musiman… mereka hadir dalam satu musim; kita saling mendukung, saling mendoakan, saling berbagi hidup pada musim itu tetapi begitu musim ini berlalu kita semua pun harus move on kepada musim baru dengan kawan-kawan baru pula. Sedangkan keluarga adalah sesuatu yang permanen–walaupun terpisahkan oleh jarak dan waktu, atau mungkin juga masalah-masalah pribadi, keluarga akan selalu hadir di sepanjang perjalanan kehidupan kita meskipun hanya sesekali dan sebentar-sebentar.

Jujur, menjelang bertemu Oom Elmi, Tante Gali, dan Lea, aku merasa sedikit was-was… perasaan was-was yang sama seperti ketika aku memutuskan untuk kembali muncul di tengah keluarga besarku. Selama ini aku merasa mengecewakan mereka; tentunya mereka punya ekspektasi tinggi akan keberhasilanku, tetapi nyatanya aku pulang dengan membawa kegagalan dan banyak pelajaran keras yang belum membuahkan hasil. Insecurities dari kegagalan itu membuat aku cukup lama menaruh curiga kepada familiku. Ternyata aku salah: keluarga besar menyambut aku dengan begitu berbesar hati dan banyak mendukung aku untuk bangkit kembali; dan itu merupakan sebuah anugerah yang begitu istimewa. Paling tidak itu memberi aku sedikit kekuatan dan harapan positif untuk kembali berjumpa dengan keluarga-keluarga lain yang belum sempat kutemui; walaupun faktor was-was itu pasti masih ada.

Syukurlah, begitu kami berjumpa, semua perasaan was-wasku langsung menguap. Di bandara Reagan, Oom Elmi dan Tante Gali menyambut kami dengan begitu terbuka. Tetapi kurasa yang paling membuatku tenang adalah melihat Lea. She’s grown up a lot–but she’s still the same girl. All smiles–seolah masih ingat dan sudah akrab dengan kami. Malah aku yang sedikit canggung. Aku memang sangat senang anak-anak, tetapi kalau lama tak bertemu sehingga konteks usianya sudah berbeda, aku cenderung berlaku seolah dengan orang dewasa yang belum kukenal… sampai ada kesempatan "mencairkan es".

Dalam dua hari saja aku belajar begitu banyak dari bocah berusia tujuh tahun ini.

  • Smile… it lets people know you are happy to see them
  • Give Daddy a big hug after a long day
  • Read maps and ask for directions
  • Be enthusiastic about learning and learn thoroughly
  • Make every effort to stay bilingual–it’s better to speak the other language with an accent than to not speak it at all! Take pride in your heritage
  • All parents damage their children because human love is distorted love.
    But in any case, however distorted a parent is, the bottom line is that
    they love their children and strive for the child’s best interest… and God knew what He was doing when He gave us
    those particular set of parents.
  • Don’t argue, even if you don’t feel like doing what the other person says… silence saves a lot of trouble
  • Be quick to admit your mistakes… making that mistake doesn’t make you a stupid or abominable person, it just shows that you’re big enough of a person to accept that it happened
  • Find new ways to "abuse" a "Stretch Monkey", like pressing bubbles through its rubber arms and fingers. (Limit the abuse to the toy only, please, do not practice on the real animal!)
  • IHOP is a good restaurant… and much better than Denny’s!
  • Be happy even if BMW transportation means Bus, Metro, Walk… we live in a beautiful world after all
  • When the walk or wait is getting too long, find a fun game to play
  • Release the artist in you… draw, colour, sing, write stories, cite poetry… and be proud of your creation
  • Be yourself
  • Smile at the camera… and say something if it’s a video!

Yup, smile at the camera, abadikan momen-momen istimewa. Kami mengambil banyak foto dan video di mana-mana, tetapi mungkin yang paling mengesankan adalah berpura-pura menjadi reporter di depan Gedung Putih (ditonton oleh para turis, hehe…). Main-main saja, sih… dengan banyak belibet, "cut! take two", dan nervous diliatin pak polisi, but we’re just being two Johannes granddaughters having fun in front of the camera and subconsciously offering some positive support to the other cousin. God willingly sometime in the future muka Grace dan Lea beneran nampang di TV, deh…

Selebihnya kupegang saja kata-kata Tante Gali, "cepat selesaikan sekolah dan terjun ke broadcasting."

Saya Grace Susetyo, dari Washington, DC, melaporkan :)

PS. Will miss you guyz… you’re in my prayers.

I am piecing a potion to combat your poison

August 17th, 2007 by graceclarissa

Kalau ditanya bagaimana perasaanku secara keseluruhan tentang liburan keluarga kami kali ini: pada dasarnya aku bersyukur kami bisa kumpul berempat. Aku beruntung karena keluarga kumpul lengkap bukanlah sebuah privilege yang dapat diakses siapa saja. Banyak keluarga terpecah oleh kematian dan perceraian… atau seperti aku antara usia 18-21; kemelut di dalam hati dan berbagai permasalahan pribadi membuat tidak mungkin untuk bertemu keluarga. Aku mengucap syukur bahwa Tuhan membuka jalan bagiku untuk pulang. Walaupun begitu, kusadari bahwa keakuran dan kesatuan dalam keluarga tetap saja tidak otomatis. Bukanlah hal yang mudah bagi empat orang dari dunia yang sama sekali berbeda untuk bisa saling nyambung, saling menerima, dan saling menikmati. Ada harga yang harus dibayar.

Maksud kami jalan-jalan di Stanley Park, Vancouver, hari ini adalah untuk mengadakan "talk time" keluarga: mengevaluasi kembali perkembangan tahun 2007 thus far, dan mengulas harapan-harapan kami akan sisa tahun ini. Cukup banyak yang dibahas, jadi kami belum selesai. Aku sendiri belum dapat giliran bicara… dan terus terang saja aku belum tahu mau mengatakan apa bila giliranku tiba nanti.

Kadang-kadang aku tak habis pikir… rasanya aku begitu mudah menulis blog untuk dipamerkan kepada dunia atau bercerita tentang masa laluku atau perasaan-perasaanku kepada teman-teman yang baru kukenal… dan setiap kali aku melakukan hal itu aku selalu mengatakannya dengan tulus dan jujur. Tetapi begitu diperhadapkan dengan "talk time" keluarga rasanya aku selalu kehabisan kata-kata. Actually, aku biasanya enggan bercerita kepada keluargaku sendiri apa yang kutulis dalam blogku… apalagi apa yang kuceritakan secara lisan kepada kawan-kawanku.

Hal yang tersulit dari perjalanan ini masih seputar getting along dengan ayahku. Gimana ya? He’s a good father. Ayah mana lagi masih tahan punya putri sulung dropout kuliah empat kali–atas biaya beliau–tetapi masih sabar memberi kesempatan? But he’s not perfect and I just have to get over it. Aku sering kesal dengan sikapnya yang serba mau mengatur dan mengontrol, yang tidak pernah mempercayakan apapun kepada orang lain, ngotot dalam beropini, semua orang lain harus hormat-hormat padanya, dan tidak sabaran. Jujur saja, kadang-kadang aku bertanya kepada Tuhan, "Tuhan, aku cinta ayahku, dan aku bersyukur Kauberi aku ayah orang ini. Aku ingin sebisa mungkin menghormati dia dan membuatnya senang, tapi rasanya I’m just never good enough. I’m just not the kind of daughter he dreamt of having. Dan terus terang, aku tak tahan berada bersamanya. Aku tak suka menceritakan perasaan-perasaanku dan pendapat-pendapatku. Aku tak suka menghabiskan waktu dengannya. Salahkah aku?"

Jujur saja, liburan ini bukanlah suatu musim di mana Tuhan terasa dekat. Aku sering merasa sulit untuk berdoa dan merasakan hadirat Tuhan. Dan rasanya tak perlu aku tambahkan bahwa aku belum mendapat kalimat atau ayat tertentu yang menjawab pertanyaanku. Namun setelah sekian lama berjalan dengan Tuhanku, aku telah sampai di suatu titik di mana aku tahu bahwa perasaan ini hanya sementara dan sesungguhnya Ia sedang bekerja dengan cara-cara yang tak kumengerti dan tak kurasakan. Ia Tuhan Mahabesar… begitu besar melampaui pengertian dan perasaan manusia. Aku hanya tahu bahwa antara Dia dan aku ada suatu perjanjian yang tidak bisa dibatalkan: Ia adalah Tuhanku dan aku adalah umat-Nya, dan sampai rambutku putih Ia akan tetap menggendongku… walaupun ibu kandungku sekalipun melupakan aku, Ia sekali-kali tak akan melupakan atau meninggalkan aku.

Ngomong-ngomong soal ibu, aku ingat mula-mula saat aku pulang ke rumah di mana aku benar-benar merasa sulit menerima Mama apa adanya. Aku pulang dengan perasaan telah gagal sebagai seorang anak dan tidak merasakan kepeduliannya akan hal-hal yang kuhargai dalam hidup. Responnya, "(prestasi itu) tidak perlu. Papa Mama tidak minta itu dari kamu. Hidup ini lebih dari perform-perform… kamu harus belajar bergantung pada kasih karunia Tuhan… lagipula Papa Mamamu masih di sini untuk menyediakan semua yang kamu butuhkan." Dulu aku pasti mengamuk mendengarnya. Ini bukan soal performance atau apakah Papa Mama masih mampu menyokongku… ini soal harga yang telah kubayar secara pribadi dan kerinduanku untuk menyaksikan hal-hal tertentu terwujud dalam hidupku. Komentar semacam itu seakan memandang enteng hal-hal yang kuimpikan dan kuperjuangkan, seolah itu semua tidak penting dan aku harus menerima saja ketergantunganku kepada orangtuaku–yang menurut pandanganku yang serong pada saat itu, juga adalah sepasang orangtua yang gagal.

Belakangan kusadari, selama ini aku banyak menyimpan dendam dan marah terhadap kedua orangtuaku karena satu dan lain hal. Karena itu lapis demi lapis aku mulai mengampuni mereka dan berubah sikap, agar aku sendiri bisa menjadi anak yang sesuai dengan rancangan mula-mula Penciptaku. Puji Tuhan, dengan Mama hasilnya mulai kelihatan. Mula-mula memang dengan banyak pertengkaran sengit, bantingan pintu dan jerit tangis, but we worked things out. Kami saling mendoakan dan berdoa bersama. Kami menghabiskan waktu bersama dan berusaha saling membuka hidup kami. She reads my blogs (gosh, that helps… karena blog seringkali menceritakan hal-hal yang sulit kuungkapkan secara lisan)! Mama tetap setia membagi kepadaku bekal-bekal hidup dan dengan hormat aku memberinya kesempatan membimbingku. Sesekali aku menghabiskan satu sore berurai air mata di peluknya… karena kusadari aku begitu jauh dari sempurna tetapi aku begitu ingin hubungan kami pulih. Hasilnya? Sekarang aku begitu dekat dengan beliau.

Dengan Papaku prosesnya memang lebih lambat. Pertama, karena ia orang yang sangat kaku, logis, dan merasa tahu segala-galanya. Mama dan aku banyak membaca, belajar, dan mempraktekkan kesembuhan batin dan koneksi dengan Roh Kudus, tetapi Papa merasa hal-hal seperti itu omong kosong saja–ia merasa tak perlu mencari tahu, apalagi diajari, dan selalu menantang dan mencemooh. Kedua, karena sejarah telah menciptakan jarak antara aku dengannya. Aku tak bisa memungkiri bahwa aku telah berdosa terhadap Papaku. Aku hanya ingin mengampuni diri sendiri dan tidak lagi khawatir dengan kesalahan-kesalahan yang dulu-dulu. Tetapi bagaimanapun tak ada yang dapat memungkiri dendam yang masih ia simpan terhadapku. Papa merasa telah mengampuniku, tetapi aku tahu itu hanya secara kognitif saja. Nyatanya setiap hari semakin kecil kesalahan yang perlu kubuat untuk membuatnya naik pitam. Setiap kali ada perkara, kesalahan-kesalahan yang dulu-dulu bisa diungkit lagi… bahkan misalnya salah membelikan kado ulangtahun untuknya tahun kapan. Dan ia masih saja memungkiri kenyataan bahwa ia masih mendendam terhadapku. Dipikirnya aku seperti karyawannya di kantor yang harus tunduk-tunduk saja karena ia masih orang yang memeliharaku. Aku sulit bercanda atau berekspresi di dekatnya karena kekakuannya dan
tuntutan-tuntutannya untuk memenuhi standar-standarnya yang impossible. Karena itu aku malas bicara dengan Papa atau memberinya membaca blogku… kecuali Mama yang memberinya membacanya.

Aku bukan sedang mempersalahkan Papa. Memang seringkali tempting untuk mengatakan, "Tapi kan hubunganku dengan semua orang lain baik–kalau hanya hubunganku dengan Papa yang tidak beres berarti yang salah Papa, kan?" Dalam hal itu aku sering lupa bahwa orang yang paling banyak kesabarannya diuji dalam membesarkan aku adalah Papa. Bahkan bukan Mama. Orang-orang lain itu belum menghadapi ujian sebesar Papaku perihal aku, jadi wajar kalau mereka lebih mudah menerima aku. Tetapi kuharap aku boleh mengungkapkan betapa inginnya aku agar hubungan kami pulih, walaupun aku bahkan tak tahu apa artinya itu kalau berlama-lama di dekatnya saja aku enggan. Mungkin aku yang harus berubah dalam hal itu. Aku bersyukur punya orangtua yang excellent provider and protector–namun demikian, banyak orang punya ayah yang tidak menyanggupi fungsi itu, tetapi bisa membuat ayahnya bangga dengan menyabet beasiswa untuk sekolah tinggi di luar negeri misalnya. Aku tidak ingin hubunganku dengan ayahku tak berbeda dengan hubunganku dengan provider beasiswa, bos, petugas imigrasi, atau dekan Haagse Hogeschool yang menyebalkan. Aku tahu kenyataannya pada saat ini aku masih hidup under the mercy of my dad’s authority, tapi aku tak perlu diingatkan untuk hal itu. Aku ingin punya Papa yang hatinya dibahagiakan oleh putrinya hanya karena aku adalah putrinya. Penuh kekurangan, tetapi justru kekurangan-kekurangan itu yang membuat sang putri riil, berkarakter, dan membawa sukacita tak ternilai. Mungkin aku sudah punya Papa yang demikian… hanya saja seringkali aku tidak merasakannya. Aku hanya berkata begini karena aku sayang padanya dan ingin merasakan sayangnya…tidak hanya tahu saja.

Pada dasarnya aku cinta kedua orangtuaku. Dengan Mamaku kami memutuskan untuk do it the messy way: ceplas-ceplos, berantem, baikan… dan dalam beberapa bulan saja sudah ada terobosan yang positif. Kan yang penting uneg-unegnya ketahuan, jadi bisa dibereskan… kalau perkara sudah selesai ya tak perlu diungkit-ungkit lagi; tinggal kembali lagi kepada dasar bahwa kami saling mengasihi dan saling berbagi. Dengan Papa? Jangankan aku… dengan Mama saja toleransinya begitu tipis… ada semacam hierarki yang tak tertulis di antara mereka yang juga mengekang Mama. Yang jelas metode "ceplas-ceplos, berantem, baikan" bukan opsi untuk meruntuhkan tembok antara aku dan Papa. Egonya tidak cukup kuat untuk itu. Walaupun demikian, tembok ini harus runtuh. Aku tak bisa mengontrol apakah Papa akan mengampuniku atau tidak… apakah ia akan berubah sikap atau tidak. Aku juga tak tahu sampai kapan aku harus terus berkorban perasaan untuk either menahan cerita-ceritaku, atau memaksa diri bercerita dan tidak ditemui dengan simpati yang kuharapkan. Tapi aku bisa memilih untuk mengampuni Papa akan kekurangan-kekurangannya setiap hari. Aku bisa berdoa untuknya dan mengundang Penciptanya sendiri untuk beracara dengannya… dan Ia akan melakukan hal itu persisnya dalam waktu dan cara-Nya.

Dan tentu saja, aku bisa dan akan terus bertumbuh menjadi seorang putri yang lebih baik lagi–dengan atau tanpa afirmasinya.

Paling tidak melihat kedua orangtuaku berjalan bergandengan tangan memberi sedikit damai di hati.

 

Yes, that’s what I’m doing… I’m piecing a potion to combat the poison

(title adapted from Tori Amos’ Barons of Suburbia, album The Beekeeper)