Break the cycle

Desperate for changing, starving for truth. I’m closer to where I started, chasing after You. I’m falling even more in love with You, letting go of all I’ve held onto. I’m standing here until You make me move, I’m hanging in a moment here with You. -"Hanging by A Moment", Lifehouse

Entah kenapa tiba-tiba di pukul setengah dua pagi ini lagu ini mulai terngiang-ngiang di benakku. Padahal sudah cukup lama aku tak mendengar ataupun menyanyikannya. Lagu ini sempat jadi lagu kesayanganku menjelang lulus high school dulu, mungkin karena waktu itu aku sedang terdisoriented-disorientednya dengan kehidupan… pokoknya banyak hal tentang kehidupan dan duniaku yang pada saat itu aku tidak terima, tetapi di sisi lain hasrat terdalamku adalah mengenal kebenaran dan diubahkan oleh kebenaran itu.

Di usia 21 kurasa pencarian akan kebenaran itu belum selesai. Paling tidak setiap tahun aku bisa melihat kehidupan dengan pandangan yang lebih tajam daripada tahun sebelumnya… dan yang jelas sudah ada banyak sekali kemajuan dan perkembangan dibandingkan Grace yang berusia 16 tahun dulu. Pada dasarnya aku memang orang yang sudah dimerdekakan oleh penebusan Kristus; hanya saja proses menuju kemerdekaan dan kekudusan sejati itu belum selesai dalam hidupku, dan rasanya tidak akan pernah selesai hingga ragaku menghembuskan nafas terakhir suatu hari kelak.

Ya, di usia 21 pun banyak hal masih kelabu bagiku. Kehidupanku sebagai orang dewasa baru saja dimulai. Ya, dan kalau aku boleh jujur mengakui, banyak juga hal yang masih belum bisa kuterima tentang real life. Tetapi paling tidak aku menyadari akan hal itu dan berhasrat untuk menjadi seseorang yang real… seseorang yang tidak menunggu dunia berubah, tetapi seseorang yang melihat sang Juruselamat di tengah gelora laut dan turun kapal untuk menyongsong-Nya, dengan iman bahwa Yang Mahakuasa akan menopang kakiku untuk berjalan di atas permukaan air. Yes, I serve an impossible God, but the same God is a real God. Aku tak perlu menjadi tawanan dari idealismeku sendiri… aku hanya perlu mengenal kebenaran-Nya dan diselaraskan dengan rancangan-Nya akan kehidupanku… aku mencari maka aku akan mendapatkannya.

Hari ini aku baru membereskan di hadapan Tuhan dan beberapa saksi masalah rasa bersalah dan penuduhan terhadap diri sendiri yang–I’m ashamed to admit–selama beberapa tahun ini memenjarakanku. Cukup mengerikan snowball effect dari penuduhan itu. Yang tadinya berawal dari hasrat untuk memegang kendali kehidupanku sendiri (instead of mencari kehendak Tuhan dan berserah kepadanya) jadi sebuah kesalahan yang tidak disengaja. Kesalahannya kecil saja tapi akibatnya fatal. Akhirnya timbul penuduhan pada diri sendiri yang menjadi tembok pemisah antara aku dan banyak orang yang dengan mereka seharusnya aku punya hubungan baik. Bersama tembok pemisah itu timbul kekecewaan, penghakiman, dan keinginan untuk mengontrol yang semakin menjadi-jadi…tetapi yang ada kehidupanku malah jadi semakin out of control. Neraka dalam alam bawah sadar menjadi kenyataan di duniaku secara eksternal, dan meskipun aku sudah menerima anugerah keselamatan dan lahir baru, aku masih berjalan mengikut Kristus dengan dirantai banyak belenggu.

Sebenarnya kehidupanku sudah diisi dengan banyak sekali berkat… sejak Day1 hingga detik ini tak pernah berkurang, bahkan di hari-hari tergelapku sekalian. Aku adalah orang yang beruntung. Hanya saja rasa bersalah dan penuduhan itu yang sering membuatku buta terhadap berkat-berkat itu dan bagaimana aku sebenarnya dikasihi. Penuduhan membuat kita mati rasa terhadap kebaikan Tuhan dan anak-anak-Nya dalam hidup kita… dan kalau hati kita lapar akan kasih, otomatis suasana hati kita dan akhirnya kehidupan kita secara menyeluruh tidak bisa normal. Tetapi tentunya tidak selamanya aku mau seperti ini.

Saat ini aku memasuki lima bulan sejak kembali ke Jakarta. Aku pulang dengan tekanan batin untuk harus sibuk dan berproduksi, dan menyadari berapa lama aku sudah pulang, terus terang cukup risih juga bahwa aku belum menghasilkan sebanyak yang kutargetkan. Tetapi ada kelegaan yang sangat besar waktu mentorku berkata kepadaku, "prioritasmu saat ini bukanlah untuk berhasil di bisnis ini, tetapi untuk become somebody… menjadi pribadi yang benar-benar utuh, merdeka, dan damai dengan dirimu sendiri." Beliau ini orang yang cukup sibuk, dan adalah hal yang sangat menggugah bahwa di antara sekian ratus, bahkan mungkin ribuan orang yang beliau pimpin–yang mana banyak di antara mereka punya bisnis besar-besar–beliau tetap mau menyediakan waktu untuk aku membuka kehidupanku dan mengatakan sesuatu seperti itu kepadaku.

Bukan berarti hasil tidak penting–penting sekali karena untuk hasillah aku membayar harga dan bekerja. Tetapi rupanya yang lebih penting daripada hasil yang dapat dinilai oleh kasat mata dan logika manusia adalah pribadi yang terbentuk di dalam diriku dalam proses tersebut. Yang satu ini hanya Tuhan dan diriku yang paling tahu…dan mungkin orang-orang terdekat saja yang bisa punya a good idea of what’s going on. Seperti kata mentorku, kemerdekaan harus terwujud dalam hati dan jiwa kita dulu, barulah dunia luar di mana kita hidup akan menjadi dunia yang benar-benar merdeka. Bukan berarti semua akan perfect–malahan masalah dan pencobaan akan sama saja kalau tidak lebih besar–hanya saja kita akan menjadi orang yang lebih fit untuk menghadapi kesulitan. Kita jadi lebih tangguh karena kita sudah lebih lama mengalami bagaimana Yang Mahakuasa telah menopang kita melalui badai topan kehidupan…dan dari situ jadi punya keyakinan akan bagaimana Ia akan menopang kita lagi menuju ke tempat yang lebih tinggi. Kurasa inilah arti dari menyiapkan kantong anggur yang baru sebelum menerima anggur baru.

Tetapi kembali kepada apa yang telah kucapai sejak lima bulan, paling tidak sekarang aku sudah merasa lebih tenang, lebih damai, lebih berharga, dan lebih secure akan siapa diriku. Berdasarkan rhema dan peneguhan beberapa hari terakhir ini, kurasa ini menandakan bahwa saatnya telah tiba untuk membuat perubahan-perubahan yang radikal dalam hidupku dalam upaya mengejar kebenaran itu. Beverly Sallee mengkonfirmasikan dalam bukunya "The Positive Charge", don’t put your life on hold. Jelas, untuk bisa mencapai keberhasilan (dan memenuhi rancangan Tuhan untuk hidup kita) perlu ada delayed gratification dan pengorbanan..tetapi jangan sampai hari-hari dan minggu-minggu lewat terisi kerja saja sampai tidak sempat menikmati indahnya kehidupan sesuai dengan minat dan bakat yang ditanamkan Sang Pencipta dalam hidup kita. Janji Tuhan pun kembali datang padaku… bahwa Ia akan memenuhi segala kebutuhanku menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya… dan bahwa dalam waktu-Nya Ia akan menyanggupkanku melakukan perkara-perkara yang sudah menjadi tugasku selama hidup di dunia ini.

Sekali lagi, banyak hal aku masih belum memegang jawaban dari banyak pertanyaan…tetapi aku tahu bahwa asal aku percaya dan berserah pada-Nya Ia akan menyatakan semuanya itu.

Selebihnya aku hanya bisa setuju dengan Jason Wade: Aku merindukan perubahan dan hasratku adalah kebenaran. Aku kembali ke titik dari mana aku mulai, mengejar hadir-Mu. Semakin jatuh cinta pada-Mu, aku melepaskan semua konsep yang selama ini kupegang. Aku berdiri di sini sampai Engkau menggugahku, di sini kumenanti-Mu.

Leave a Reply